Waspada Inflasi Kenaikan Tarif Listrik

kenaikan tarif listrik inflasi

Pemerintah dan Bank Indonesia harus mulai mengantisipasi laju inflasi yang terjadi dari rencana penyesuaian tarif listrik pada Maret dan Mei 2017.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat indeks harga konsumen (IHK) atau inflasi Februari masih didominasi komponen harga yang diatur pemerintah dengan andil 0,9% terinflasi 0,58%. Seperti bulan lalu, pencabutan subsidi listrik untuk pengguna daya 900 VA menjadi donatur utama inflasi.

“Inflasi Februari dari 0,23%, penyebabnya ialah administered prices dengan inflasi 0,58% dan andil 0,9%. Sementara volatile prices yang termasuk bahan makanan mengalami deflasi 0,36%,” ujar Kepala BPS Suhariyanto di Jakarta, kemarin.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar tercatat mengalami inflasi 0,75% dengan andil 0,17%. Perinciannya, inflasi disebabkan penyesuaian subsidi listrik untuk 900 VA. “Efeknya sudah kita lihat pada Januari lalu dan Februari ini untuk pelanggan yang bayar dengan pascabayar. Jadi untuk tarif listrik, andil kepada inflasi sebesar 0,17%,” sambung Suhariyanto.

Sementara itu, deflasi pada komoditas bahan pangan disebabkan turunnya harga beras dan beberapa komoditas pertanian kendati cabai rawit merah dan bawang merah masih terinflasi cukup tinggi.

“Beberapa komoditas yang alami kenaikan ialah cabai rawit dan bawang merah. Sementara yang menghambat inflasi ialah cabai merah (-5,7%), daging ayam (-6,1%). Selain itu, telur ayam dan beras,” sebutnya.

Dengan inflasi pada Februari mencapai 0,23%, inflasi tahun kalender Januari-Februari 2017 telah mencapai 1,21% dengan inflasi dari tahun ke tahun (year on year/yoy) tercatat sebesar 3,83%. Adapun komponen inti pada Februari 2017 tercatat mengalami inflasi 0,37%, dengan tingkat inflasi inti dari tahun ke tahun (yoy) 3,41%.

Info Terkait :   Harus Ada Data Valid Cabut Subsidi Listrik

Suhariyanto mengatakan inflasi Februari 2017 ini lebih tinggi daripada periode sama 2015 dan 2016 yang masing-masing tercatat deflasi sebesar 0,36% dan 0,09%.

Menurutnya, pemerintah dan Bank Indonesia harus mulai mengantisipasi laju inflasi yang terjadi dari rencana penyesuaian tarif listrik pada Maret dan Mei 2017.

“Kenaikan tarif listrik plus beban pada Maret dan Mei, apakah akan berdampak? Kalau dari pengalaman Januari dan Februari, pasti akan berdampak,” kata Suhariyanto.

Sumber : Media Indonesia 2 Maret 2017

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *