Urgensi Pembangkit 35000 MW oleh Fabby Tumiwa

program-35000-MW

Menteri Koordinator Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli pada Senin (7/9) menyampaikan keinginan merevisi target megaproyek listrik 35 ribu megawatt (MW) menjadi menjadi 16 ribu MW.

Ada dua ada dua alasan yang disampaikan terkait rencana untuk menurunkan target tersebut. Pertama, target 35 ribu MW dianggap tidak realistis tercapai dalam lima tahun. Kedua, beban puncak listrik PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) pada 2019 Iebih kecil dari jumlah tambahan pasokan dengan masuknya tambahan pembangkit 35.000 MW dan 7.000 MW yang sedang dibangun. Akibatnya, cash flow PLN akan terganggu karena perusahaan ini harus membeli listrik yang dibangun swasta (independent power producer/IPP).

Setelah krisis ekonomi 1997, kondisi listrik Indonesia juga mengalami krisis. Pemadaman listrik terjadi di lebih dari 24 wilayah. Selama 15 tahun terakhir ini praktis terjadi kejar-mengejar antara laju permintaan dan pasokan. Akibatnya, waktu tunggu untuk mendapatkan sambungan listrik cukup lama karena keterbatasan kapasitas baru.

Dalam lima tahun terakhir, permintaan listrik tumbuh 8-8,5%, naik dari periode sebelumnya. Walaupun dalam lima tahun terakhir pasokan bertumbuh cukup besar, gejala krisis listrik mulai muncul di beberapa tempat Sejumlah daerah di luar Pulau Jawa mengalami pemadaman karena minimnya daya cadangan (reserve margin).

Wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) juga tak pernah luput dari pemadaman karena kerusakan pada gardu dan sistem saluran distribusi. Daya cadangan listrik yang idealnya berada pada kisaran 20%-25% di sistem Jawa-Bali dan Sumatra kini semakin tergerus karena naiknya tingkat permintaan dengan cepat.

Info Terkait :   Pengelola Listrik Jangan Merugikan

Baca Halaman:

Updated on     Info Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *