Tarif Listrik Nonsubsidi Turun September 2015

listrik-non-subsidi

Tarif listrik untuk pelanggan komersil atau non-subsidi yang telah diterapkan skema tarif penyesuaian (adjustment tariff) kembali turun pada September 2015 ini lantaran merosotnya harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP).

Kepala Divisi Niaga Benny Marbun menuturkan, tarif listrik September ini ditentukan oleh realisasi kurs, ICP, dan inflasi pada Juli lalu. Untuk ICP tercatat turun menjadi US$ 51,82 per barel pada Juli lalu dari sebelumnya US$ 59,4 per barel pada Juni. Sementara untuk nilai kurs justru naik tipis dari Rp 13.313 per dolar pada Juni menjadi Rp 13.375 per dolar di Juli. Inflasi Juli juga naik menjadi 0,93% dari sebelumnya 0,54%.

“Sehingga tariff adjustment September lebih rendah dari Agustus. Mudah-mudahan dapat membantu konsumen bisnis dan industri untuk tumbuh bergairah,” kata dia di Jakarta, Senin (31/8).

Tariff Adjustment September 2016

Dia merinci, tarif listrik untuk Golongan Tegangan Rendah (TR) dengan daya 3.500 Volt Ampere (VA) hingga 200 kilo (VA) turun menjadi Rp 1.523,43 per kilowatt hour (kWh) dari sebelumnya Rp 1.546,6 per kWh. Pelanggan yang dikenai tarif ini yakni pelanggan rumah tangga R-2 (3.500-5.500 VA), R-3 (6.600 VAke atas), dan bisnis B-2 (6.600 VA-200 kVA).

Selanjutnya, untuk golongan Golongan Tegangan Menengah (TM) B-3 dengan daya di atas 200 kVA dan Golongan I-3 dengan daya di atas 200 kVA, tarif listriknya menurun dari Rp 1.218,26 per kWh menjadi Rp 1.200,01 Rp per kWh. Sementara tarif Golongan I-4/Tegangan Tinggi CTT) dengan daya 30.000 kVA ke atas turun dari Rp 1.086,12 per kWh menjadi Rp 1,069,85 per kWh.

Info Terkait :   Tarif Listrik Nonsubsidi Naik April 2015

Tarif listrik nonsubsidi ini mulai merangkak naik pada April lalu. Sejak sebelumnya tarif listrik nonsubsidi terus turun setelah naik pada Agustus 2014. Dalam laporan keuangannya (unaudited) untuk semester 1-2015, PLN menyebutkan terjadi kenaikan rata-rata harga jual listrik dari Rp 878,44 per kWh menjadi Rp 1.018,87 per kWh.

Akibatnya, penjualan listrik perseroan pada semester pertama lalu hanya naik tipis dibandingkan semester 1-2014. Penjualan listrik hingga Juni lalu yakni 99,4 99,4Terra Watt hpur (TWh) atau naik 1,8% dibanding dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 97,6 TWh.

Sebelumnya, Benny menuturkan, pertumbuhan penjualan listrik pada tahun ini hanya akan mencapai maksimal 5,4-5,5% saja. Padahal, sesuai APBN Perubahan 2015, volume penjualan listrik ditargetkan sebesar 216,39 TWh atau tumbuh 9% dibandingkan APBN Perubahan 2014 yang 198,52 TWh. Angka ini cukup optimis mengingat pertumbuhan penjualan listrik pada 2014 tercatat hanya 5,87% dibandingkan penjualan 2013.

Menurut data PLN, pertumbuhan penjualan listrik paling tinggi terjadi pada 2012 lain; yakni mencapai 9,98%. Setelah itu, pertumbuhan penjualan listrik turun menjadi 6,93% pada 2013 dan 5,87% pada 2014.

Sumber : Investor Daily 1 September 2015

Sakana Food Depok www.sakana.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *