Tarif Listrik Nonsubsidi Naik April 2015

PLN menaikkan tarif listrik nonsubsidi di luar golongan pelanggan 1.300 VA dan 2.200 VA untuk periode April 2015. Kenaikan dipicu faktor melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, kenaikan harga minyak dunia, dan inflasi. Tarif untuk golongan L300 VA dan 2.200 VA diputuskan tidak ada perubahan.

Manajer Senior Komunikasi Korporat PT PLN Bambang Dwiyanto mengatakan, mulai 1 Januari 2015, pemerintah menetapkah tarif dasar listrik berdasarkan rerata nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, harga minyak dunia, dan inflasi. Penyesuaian tarif berdasarkan ketiga faktor itu hanya berlaku untuk pelanggan rumah tangga daya 3.500 VA ke atas, pelanggan bisnis 6.600 VA ke atas, pelanggan industri 200.000 VA ke atas, kantor pemerintah 6.600 VA ke atas, dan lampu penerangan jalan.

Penyesuaian tarif untuk pelanggan rumah tangga daya 1.300 VA dan 2.200 VA yang semula dijadwalkan dimulai bulan ini dibatalkan. Alasannya, kedua golongan pelanggan itu sudah mengalami kenaikan tarif secara bertahap sejak Juli 2014 sampai November 2014,” ujar Bambang di Jakarta, Jumat (3/4).

Dengan pembatalan itu, tarif golongan pelanggan 1.300VA dan 2.200 VA pada bulan ini tetap menjadi Rp 1.352 per kWh. Adapun golongan pelanggan rumah tangga 3.500 VA-5.500 VA dan 6.600 VA ke atas serta golongan pelanggan bisnis 6.600-200.000 VA naik Rp 39,31 per kwh,

Menurut Bambang, penyesuaian tarif berdasarkan ketiga faktor itu tidak berlaku bagi pelanggan rumah tangga daya 450 VA dan 900 VA, pelanggan industri kecil, dan pelanggan sosial Dari 59 juta pelanggan PLN di Indonesia, sekitar 81 persen tidak dikenai penyesuaian tarif.

Info Terkait :   Subsidi Listrik akan Dialihkan Langsung ke Masyarakat

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Jarman mengatakan, dari ketiga faktor penyesuaian tarif listrik, faktor pengaruh nilai tukar rupiah terhadap dollar AS paling besar. Hal itu terkait belanja operasional PLN yang banyak menggunakan dollar AS.

Pengamat ketenagalistrikan Fabby Tumiwa mengatakan, pengaruh nilai tukar rupiah terhadap dollar AS cukup besar bagi PLN. Sekitar 70 persen pengelu-aran PLN menggunakan mata uang dollar AS.

Industri Terbebani Kenaikan Tarif Listrik

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Suryo Bambang Sulisto menilai, kenaikan tarif listrik berpengaruh terhadap struktur biaya produksi “Tanpa ada kenaikan tarif listrik industri, di Indonesia itu sudah lebih mahal dibanding negara lain. Kondisi ini tentu mengurangi daya saing,” katanya.

Menurut Kettia Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Hariyadi Sukamdani, seharusnya tarif listrik industri dijaga agar kompetitif. “Seharusnya, industri sebagai pembeli terbesar itu mendapat tarif lebih rendah. Ini malah kebalikannya,” katanya.

Mengacu pada survei industri besar sedang BPS yang diolah Kementeriah Perindustrian, komponen biaya listrik di industri manufaktur bervariasi antara 0,8 dan 8 persen terhadap total biaya produksi. (APO/CAS)

Dari Investor Daily

Setelah sebelumnya terus turun, tarif listrik untuk pelanggan nonsubsidi naik mulai April ini. Tarif listrik nonsubsidi ini mengikuti perkembangan harga minyak dan nilai tukar rupiah.

Sesuai data PLN, terdapat 10 golongan pelanggan yang mengalami kenaikan tarif. Tarif listrik lima golongan pelanggan naik sebesar Rp 39,31 per kilowatt hour (kWh) atau 2,75% menjadi Rp 1.465,89 per kWh. Pada bulan lalu, tarif lima golongan ini ditetapkan sebesar Rp 1.426,58 per kWh.

Info Terkait :   Wapres Tegaskan Tidak Ada Revisi 35000 MW

Kelima golongan pelanggan ini yaitu pelanggan rumah tangga R2 (3.500-5.500 VA), R3 (6.600 ke atas), bisnis menengah B2 (6.600-200,000 VA), kantor pemerintah P1 (6.600-200.000 VA), dan penerangan jalan umum P3.

Selanjutnya, tarif listrik untuk golongan B3 di atas 200.000 VA, industri besar I3 di atas 200.000 kVA
dan pemerintah P2 di atas 200 kVA ditetapkan Rp l.135,93 per kWh. Angka tersebut naik dibandingkan tarif Maret 2015 sebesar Rp l.105,47 per kWh.

Kemudian untuk pelanggan 14 berdaya 30 MVA ke atas juga naik menjadi Rp 991,6 per kWh dari sebelumnya Rp 965 per kWh. Terakhir untuk golongan khusus L/TR, TM, dan TT naik menjadi Rp l.542,84 per kWh dari Rp l.501,46 per kWh.

Sementara untuk tarif golongan rumah tangga R1 dengan daya 1.300 VA dan 2.200VA belum berubah, yakni tetap Rp 1.352 per kWh. Tarif listrik pelanggan 1.300 VA-2.000 VA serta konsumen rakyat kecil tidak akan i dinaikkan. Kalaupun ada penyesuaian hanya dikenakan kepada pelanggan golongan besar,” kata Sofyan, usai menghadap Menteri BUMN Rini M Soemarno, di Kantor Kementerian I BUMN, Ramis (2/4).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *