Tarif Listrik Non-Subsidi Turun Oktober 2015

listrik-non-subsidi

Tarif listrik untuk pelanggan komersial atau nonsubsidi yang telah diterapkan skema tarif penyesuaian (adjustment tariff) kembali turun pada Oktober. Turunnya tarif listrik ini dinilai akan membantu pelanggan industri.

Kepala Divisi Niaga PLN Benny Marbun menuturkan, tarif listrik Oktober ini ditentukan oleh realisasi kurs, ICP, dan inflasi pada Agustus lalu. Untuk ICP tercatat turun menjadi US$ 42,81 per barel pada Agustus lalu dari sebelumnya US$ 51,82 per barel pada Juli. Sementara untuk nilai kurs justru naik dari Rp 13.375 per dolar pada Juli menjadi Rp 13.782 per dolar pada Agustus. Sementara inflasi Agustus turun menjadi 0,39% dari sebelumnya 0,93%.

“Jadi tarif listrik turun lagi karena ICP turun. Ini kesempatan bagus bagi industri untuk memanfaatkan turunnya tarif listrik pada Oktober ini,” kata dia kepada Investor Daily, Kamis (1/10).

tarif-listrik-non-subsidi-oktober-2015

Dia merinci, tarif listrik untuk golongan Tegangan Rendah (TR) dengan daya 3.500 Volt Ampere (VA) hingga 200 kilo (VA) turun menjadi Rp 1.507 per kilowatt hour (kWh) dari sebelumnya Rp 1.523 per kWh. Pelanggan yang dikenai tarif ini yakni pelanggan rumah tangga R-2 (3.500-5.500 VA), R-3 (6.600 VAkeatas), bisnis B-2 (6.600 VA-200 kVA), serta pelanggan pemerintah P-1 (6.600VA-200 kVA) dan P-3.

Selanjutnya, untuk golongan golongan Tegangan Menengah (TM) B-3 dengan daya di atas 200 kVA, golongan 1-3 dengan daya di atas 200 kVA, dan P-2 di atas 200 kVA, tarif listriknya menurim dari Rp 1.200 per kWh menjadi Rp 1.187 per kWh. Sementara tarif Golongan I-4/Tegangan Tinggi (TT) dengan daya 30.000 kVA ke atas turun dari Rp 1.070 per kWh menjadi Rp 1.058 per kWh.

Info Terkait :   PLN Janjikan Tarif Listrik Industri Turun 2016

Terkait penjualan listrik, Benny menyebut sudah mulai membaik. Dalam beberapa bulan terakhir, penjualan listrik nasional baru tumbuh sekitar 2%. “Namun, pada Agustus kemarin, penjualan tumbuh 4%,” tutur dia.

Meski demikian, sampai akhir tahun nanti, pertumbuhan penjualan listrik nasional diperkirakan tidak bisa mencapai target APBN Perubahan 2015 sebesar 216,39 terawatt hour (TWh) atau tumbuh 9% dari tahun lalu yang sebesar 198,52 TWh. Dengan kondisi saat ini, pertumbuhan penjualan listrik tahun ini hanya akan menyentuh 3%.

Pertumbuhan penjualan listrik ini sudah lebih baik dari realisasi semester pertama tahun ini. Pada semester pertama lalu, penjualan hanya naik tipis dibandingkan semester 1-2014.

Terkait penjualan listrik, Benny menyebut sudah mulai membaik. Dalam beberapa bulan terakhir, penjualan listrik nasional baru tumbuh sekitar 2%. “Namun, pada Agustus kemarin, penjualan tumbuh 4%” tutur dia.

Meski demijdan, sampai akhir tahun nanti, pertumbuhan penjualan listrik nasional diperkirakannya tidak bisa mencapai target APBN Perubahan 2015 sebesar 216,39 terawatt hour (TWh) atau tumbuh 9% dari tahun lalu yang sebesar 198,52 TWh. Dengan kondisi saat ini, pertumbuhan penjualan listrik tahun ini hanya akan menyentuh 3%.

Pertumbuhan penjualan listrik ini sudah lebih baik dari realisasi semester pertama tahun ini. Pada semester pertama lalu, penjualan hanya naik tipis dibandingkan semester 1-2014.

Penjualan listrik hingga Juni lalu yakni 99,4 99,4 TWh atau naik 1,8% dibanding dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 97,6 Twh.

Info Terkait :   Kalkulator Hitung kWh Listrik Prabayar

Rendahnya pertumbuhan penjualan ini sejalan dengan mulai merangkak naiknya tarif listrik pada April lalu sejak sebelumnya terus turun setelah naik pada Agustus 2014. Dalam laporan keuangannya (unaudited) untuk semester 1-2015, PLN menyebutkan terjadi kenaikan rata-rata harga jual listrik dari Rp 878,44 per kWh menjadi Rp 1.018,87 per kWh.

Menurut data PLN, pertumbuhan penjualan listrik paling tinggi terjadi pada 2012 lalu, yakni mencapai 9,98%. Setelah itu, pertumbuhan penjualan listrik turun menjadi 6,93% pada 201? dan 5,87% pada 2014.

Sumber : Investor Daily 2 Oktober 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *