Tarif Listrik Non-Subsidi Turun Agustus 2015

listrik-non-subsidi

Tarif listrik untuk pelanggan komersial atau nonsubsidi yang telah diterapkan skema tarif penyesuaian (adjustment tariff) diturunkan pada Agustus 2015. Hal ini lantaran harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) kembali melemah.

Kepala Divisi Niaga PT PLN (Persero) Benny Marbun menuturkan, tarif listrik nonsubsidi Agustus ditentukan berdasarkan ICP, nilai tukar, dan inflasi pada Juni lalu. Harga minyak pada Juli lalu tercatat US$ 59.4 per barel atau turun tipis Hari Mei yang sebesar US$ 61,86 per barel.

“Sehingga tarif Agustus mengalami sedildt penurunan dibanding Juli karena terpengaruh harga minyak bumi yang juga tengah turun,” kata dia di Jakarta, Kamis (6/8).

Dia merinci, tarif listrik untuk golongan Tegangan Rendah (TR) dengan daya 3.500 Volt Ampere (VA) hingga 200 kilo (VA) turun menjadi Rp 1.547 per kilowatt hour (kWh) dari sebelumnya Rp 1.548 per kWh. Pelanggan yang dikenai tarif ini yakni pelanggan rumah tangga R-2 (3.500-5.500 VA), R-3 (6.600 VA ke atas), dan bisnis B-2 (6.600 VA-200kVA).

Selanjutnya, untuk golongan Golongan Tegangan Menengah (TM) B-3 dengan daya di atas 200 kVA dan Golongan 1-3 dengan daya di atas 200 kVA, tarif listriknya menurun dari Rp 1.219 per kWh menjadi Rp 1.218 Rp per kWh. Sementara tarif Golongan I-4/Te-gangan Tinggi (TT) dengan daya 30.000 kVA ke atas turun dari Rp 1.087 per kWh menjadi Rp 1.086 per kWh.

Info Terkait :   Perbaikan Tanpa Mati Listrik, PLN Efisiensi Rp 400 M/Tahun

Diakui Benny, penurunan tarif listrik Agustus ini memang tidak terlahi gignifikan. Pasalnya, meski harga minyak turun, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus melemah. Pada Juni lalu kurs rupiah tercatat Rp 13.313 per dolar, sementara nilai tukar pada Mei Rp 13.141 per dolar.

“Karena kurs naik, jadi dampak penurunan ICP terhadap penurunan tidak terlalu besar,” jelas dia. Sementara itu, inflasi Juni juga naik menjadi 0,54% dari sebelumnya pada Mei 0,5%.

Tarif listrik nonsubsidi ini mulai merangkak naik pada April lalu. Sejak sebelumnya tarif listrik nonsubsidi terus turun setelah naik pada Agustus 2014. Dalam laporan keuangannya (unaudited) untuk semester 1-2015, PLN menyebutkan terjadi kenaikan rata-rata harga jual listrik dari Rp 878,44 per kWh menjadi Rp 1.018,87 per kWh.

Akibatnya, penjualan listrik perseroan pada semester pertama lalu hanya naik tipis dibandingkan semester 1-2014. Penjualan listrik hingga Juni lalu yakni 99,4 Terra Watt hour (TWh) atau naik 1,8% dibanding dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 97,6 TWh.

Meski demikian, Benny mengaku belum bisa berkomentar apakah penurunan tarif pada Agustus ini akan menggenjot penjualan listrik ke depan. “Penjualan masih dievaluasi,” tutur dia.

Sebelumnya, dia menuturkan, pertumbuhan penjualan listrik pada tahun ini hanya akan mencapai maksimal 5,4-5,5% saja. Padahal, sesuai APBN Perubahan 2015, volume penjualan listrik ditargetkan sebesar 216,39 TWh atau tumbtih 9% diban dingkan APBN Perubahan 2014 yang 198,52 TWh. Angka ini cukup optimis mengingat pertumbuhan penjualan listrik pada 2014 tercatat hanya 5,87% dibandingkan penjualan 2013.

Info Terkait :   2016, Rasio Elektrifikasi Suluttenggo Naik 5%

Menurut data PLN, pertumbuhan penjualan listrik paling tinggi terjadi pada 2012 lalu, yakni mencapai 9,98%. Setelah itu, pertumbuhan penjualan listrik turun menjadi 6,93% pada 2013 dan 5,87% pada 2014.

Sumber : Investor Daily 7 Agustus 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *