Tanpa PLTN, Indonesia Defisit Energi

pltn-indonesia

Tanpa energi nuklir, Indonesia diprediksi akan mengalami kelangkaan energi pada 2025. Kebutuhan energi listrik Indonesia terus meningkat. Dalam hitungan minimal, peningkatan itu sekitar 7% per tahun. Energi nuklir bisa membantu menutup kebutuhan energi itu.

Keputusan pemerintah untuk menunda proyek energi nuklir disayangkan. Berdasarkan kajian akademis, Indonesia sudah siap membangun dan mengoperasikan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). PLTN dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan energi listrik yang terus meningkat.

“Secara akademis, kami sangat menyayangkan keputusan itu,” kata Kepala Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Deendarlianto, kemarin.

Ia menjelaskan kebutuhan energi listrik Indonesia terus meningkat. Dalam hitungan minimal, peningkatan itu sekitar 7% per tahun. Jika hanya mengandalkan sumber-sumber energi yang ada saat ini, diprediksi pada 2025 Indonesia akan mengalami kelangkaan energi.

Indonesia menargetkan pada 2025 nanti 23% energi Indonesia berasal dari energi baru dan terbarukan. Penggunaan energi nuklir akan membantu mencapai target itu.

Pembangunan PLTN perlu dilakukan mulai tahun ini, mengingat dibutuhkan waktu sekitar 14 tahun untuk mewujudkan pengoperasian PLTN. Tahapannya, 3 tahun untuk kajian geologi, 6-7 tahun kajian konstruksi, lalu tahap operasi yang perlu waktu sekitar 4 tahun.

“Bila ditetapkan tahun ini, PLTN sudah bisa digunakan pada 2030. Ini harus dilakukan untuk menunjang energi baru dan terbarukan lain yang diprediksi tidak akan stabil dan lebih mahal,” tambahnya.

Info Terkait :   Pemerintah Tunda Proyek Energi Nuklir

Deendarlianto menegaskan, Indonesia memiliki sumber daya manusia (SDM) yang mampu menangani nuklir. Karena itu, ia menyayangkan keputusan pemerintah menunda pemanfaatan energi nuklir.Butuh kemandirian Di sisi lain, anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Sonny Keraf mengatakan dibutuhkan kesiapan matang dari berbagai aspek untuk mewujudkan PLTN di Indonesia. Bukan hanya kesiapan dalam hal teknis, melainkan juga aspek sosial dan politis.

“Nuklir terkait dengan berbagai aspek. Bila seluruh aspek terkait sudah terpenuhi, baru Indonesia bisa dinyatakan siap menggunakannya,” kata Sonny, kemarin.

Ia menjelaskan, berdasarkan hasil pembelajaran dari berbagai negara yang telah mengembangkan PLTN, kemandirian menjadi hal utama yang masih harus dimaksimalkan Indonesia. Hal tersebut dibutuhkan guna menghilangkan faktor ketergantungan akan berbagai kebutuhan terkait PLTN nantinya. Mulai dari sisi teknologi, SDM, hingga bahan baku.

Sonny menambahkan, dalam PP No 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional ditetapkan prioritas pengembangan energi akan dilakukan pada pemanfaatan energi terbarukan. Sementara, nuklir sebagai pembangkit listrik diamanatkan sebagai pilihan terakhir.

“Hal itu ditetapkan dengan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk keamanan dan keselamatan,” imbuhnya.

Meski demikian, menurut Sonny, DEN tetap mendorong pengembangan penelitian dan penguasaan teknologi nuklir. Road map pengembangan nuklir terus dimatangkan.

Sebelumnya, pertemuan Presiden Joko Widodo, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said, dan Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Djarot S Wisnubroto di Istana Negara, Senin (11/1), menyimpulkan Indonesia masih belum memprioritaskan energi nuklir untuk pembangkit listrik.

Info Terkait :   Pembangkit Nuklir Perlu Kesempatan

Sumber : Media Indonesia 14 Januari 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *