Semester I 2015, PLN Rugi Selisih Kurs Rp 10,5 T

pln-indonesia

PT PLN (Persero) mengalami rugi bersih sebesar Rp 10,5 triliun pada semester pertama 2015. Kerugian terutama karena rugi selisih kurs Rp 16,9 triliun pada periode tersebut.

Diberlakukannya Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan (ISAK) 8 mulai tahun 2012, maka sebagian besar transaksi tenaga listrik antara PLN dengan pengembang listrik swasta (Independent Power Producer/DPP) dicatat seperti transaksi sewa guna usaha. Kondisi ini berdampak pada liabilitas/utang valas PLN meningkat signifikan dan laba rugi PLN sangat berfluktuasi dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah terhadap valas.

“Untuk mengurangi beban akibat mata uang rupiah terdepresiasi terhadap mata uang asing terutama dolar AS, perusahaan pada April 2015 telah melakukan transaksi lindung nilai atas sebagian kewajiban dan utang usaha valas,” kata Sekretaris Perusahaan PLN Adi Supriono dalam siaran pers di Jakarta, Rabu (20/7).

Pada periode yang sama tahun lalu, PLN berhasil mencetak laba bersih Rp 14,5 triliun, antara lain karena laba kurs Rp 4,4 trilliun pada semester pertama 2014.

Sementara laba operasi atau usaha PLN pada semester pertama 2015 sebesar Rp 24,7 triliun atau turuh dibanding periode sama 2014 sebesar Rp 28,8 triliun.

Padahal, menurut Adi, dari sisi, penjualan listrik pada semester pertains 2015 mengalami kenaikan cukup signifikan yakni Rp 15,5 triliun atau naik 18,1% menjadi Rp 101,3 triliun dibanding periode sama 2014 sebesar Rp 85,7 triliun.

Info Terkait :   PLN Bangun GITET di Lengkong, Tangerang

Pertumbuhan pendapatan itu berasal dari kenaikan volume menjadi 99,4 Terra Watt hour (TWh) atau naik 1,8%,dibanding dengan periode sama 2014 sebesar 97,6 TWh dan kenaikan harga jual rata-rata dari Rp 878,44 menjadi Rp 1.018,87/kWh.

Jumlah pelanggan PLN pada akhir semester pertama 2015 tercatat 59,5 juta atau naik 6,82% dari periode sama 2014 yaitu 55,7 juta. Kenaikan jumlah pelanggan itu meningkatkan rasio elektrifikasi nasional dari 80,1 persen pada Juni 2014 menjadi 84% pada Juni 2015.

Adi juga mengatakan, subsidi listrik pada semester pertama 2015 sebesar Rp 27,4 triliun atau turun Rp 30,3 triliun (52,5%) dibandingkan semester pertama 2014 Rp 57,7 triliun. Penurunan tersebut dikarenakan efisiensi biaya penyediaan tenaga listrik dan kenaikan tarif tenaga listrik pada beberapa golongan tarif.

Total pendapatan usaha pada semester pertama 2015 sebesar Rp 132,54 triliun atau lebih rendah Rp 14,5 triliun (turun 9,8%) dibandingkan dengan semester pertama 2014 sebesar Rp 147,01 triliun.

Beban usaha perusahaan juga turun Rp l0,4 triliun atau 8,8% menjadi Rp l07,8 triliun dibandingkan periode sama 2014 sebesar Rp 118,2 triliun. Penurunan itu karena substitusi penggunaan BBM dengan batubara atau energi lain yang lebih murah dan turunnya harga energi primer.

Efisiensi terbesar dari berkurangnya biaya BBM yaitu Rp 19,4 triliun atau 50,5%, sehingga pada semester pertama 2015 menjadi Rp 18,8 triliun dari sebelumnya Rp 37,9 triliun,” kata Adi.

Info Terkait :   Tarif Listrik Nonsubsidi Naik Juli 2015 (Lagi)

Sementara, biaya batubara naik Rp 2,1 triliun atau 10,2% menjadi Rp 22,4 triliun dan gas naik dari Rp 22,7 trilliun menjadi 23,2 trilliun. Aset per 30 Juni 2015 tercatat Rp 622,5 triliun atau naik 1,87% dibanding 31 Desember 2014 sebesar Rp 611,1 triliun. Kenaikan aset itu terutama disebabkan jumlah aset tidak lancar mengalami peningkatan 2,1% menjadi Rp 536,8 triliun pada 30 Juni 2015 dari Rp 525,6 triliun pada 31 Desember 2014.

“Peningkatan ini disebabkan adanya investasi pada proyek-proyek yang masih terus berjalan terutama pembangkit dan transmisi,” kata Adi.

Sumber : Investor Daily 30 Juli 2015

Sakana Food Depok www.sakana.id
Updated on     Info Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *