Rusia Minat Investasi Pembangkit Listrik

pltn-indonesia

Rusia berminat menggarap proyek-proyek di sejumlah sektor penting di Indonesia, seiring program Pemerintah RI membangun infrastruktur besar-besaran dan mengembangkan industri hilir di dalam negeri. Dalam tiga tahun mendatang, investasi tersebut ditargetkan sekitar US$ 100 miliar.

Berdasarkan data Bappenas, pemerintahan baru Joko Widodo (Jokowi) berencana membangun infrastruktur besar-besaran senilai total sekitar Rp 5.519,4 triliun periode 2015-2019. Pemerintah akan mendanai sekitar Rp 2.215,6 triliun lewat APBN dan Rp 545,3 triliun lewat APBD. Sedangkan sisanya diharapkan diperoleh dari swasta Rp 1.692,3 triliun dan BUMN Rp 1.066,2 triliun. Proyek tersebut mencakup pembangunan infrastruktur di sektor perhubungan laut, udara, darat (seperti jalan dan jalur kereta api), ketenagalistrikan, migas, teknologi komunikasi dan informatika, sumber daya air, serta perumahan.

Wakil Perdana Menteri Federasi Rusia Arkady Dvorkovich mengatakan, minat investasi Rusia akan didiskusikan dalam pertemuan World Economic Forum on East Asia 2015 yang digelar 19-21 April di Jakarta. Ia akan menjadi pembicara dalam sesi diskusi Senin (20/4), yang bertajuk In Markets We Trust: Injecting Confidence into Asian Markets. Pembicara lain adalah Menko Perekonomian Indonesia SofyanA Djalil, Executive Director Iippo Group John Riady, dan Deputy Secretary-General Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) Mari Kiviniemi.

Dvorkovich mengatakan, beberapa sektor yang ‘diincar’ Rusia adalah infrastruktur jalan raya, produksi pesawat, smelter aluminium, sumber energi terbarukan, riset nuklir, dan rel kereta api. “Kami ingin membantu pemerintah Indonesia dalam pembangunan jalur rel kereta api. Kami juga tertarik untuk meningkatkan sektor perdagangan dan investasi di perkebunan,” kata Dvorkovich dalam wawancara dengan sejumlah wartawan di Jakarta, Minggu (19/4).

Info Terkait :   Investasi Pembangkit Listrik Tumbuh di Sumatera Utara

Dalam kunjungan ke Indonesia yang pertama kali ini, Dvorkovich mengatakan, pihaknya akan berupaya meningkatkan kerja sama dan perdagangan antara Rusia dan Indonesia.

Kerja Sama ini Dibutuhkan Indonesia & Rusia

“Masyarakat Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki tingkat 1 konsumsi tinggi. Ini peluang bagi kami untuk mendukung Indonesia, baik dalam peningkatan industri ataupun perdagangan,” kata Dvorkovich.

Untuk mewujudkan target tersebut, Dvorkovich akan menemui Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla, Senin (20/4). Ia bermaksud membicarakan peningkatan jalinan keija sama lebih lanjut dengan Indonesia.

“Kami tidak berusaha bersaing dengan Hongkok. Tapi, kami bisa menyediakan produk dengan harga lebih kompedtif dan punya pengalaman di bidang transportasi, pembangunan, dan lainnya,” imbuh dia.

Dvorkovich berharap kerja sama antara Indonesia dan Rusia berjalan semakin baik di bawah pemerintahan Presiden Jokowi. Menurut dia, Jokowi memiliki kepemimpinan yang sangat bagus.

Ia mengatakan, kepemimpinan Jokowi akan menjadi ‘pintu’ untuk merealisasikan rencana investasi Rusia ke Indonesia. Hal ini sejalan dengan kebijakan Rusia untuk kembali fokus berinvestasi lebih banyak di Asia Pasifik, termasuk Indonesia.

“Kami melihat ke depan untuk membina hubungan yang lebih baik dengan Indonesia. Saat ini, fokus investasi Rusia lebih banyak di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia. Memang, rencana investasi yang kami lakukan bisa dibilang cukup terlambat dan jumlahnya juga tidak besar. Bahkan, dulu hampir tidak ada, from almost nothing. Tapi ini hanya masalah waktu,” ungkapnya.

Smelter US$ 2,5 Miliar

Sebelumnya, investor Rusia dikabarkan berminat menggarap berbagai proyek di Kalimantan. Perusahaan aluminium terbesar di dunia asal Rusia, United Company RUSAL Pic, pernah menyatakan berminat membangun smelter alumina di Kalimantan Barat senilai US$ 2,5 miliar.

Info Terkait :   PLTN Tidak Masuk dalam Rancangan Energi Nasional

Sementara itu, Menko Perekonomian Sofyan Djalil mengungkapkan baru-baru ini, investor Rusia ‘melirik’ investasi di pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) mineral, senilai lebih dari US$ 1 miliar. Saat ini ada beberapa investasi yang tengah digarap, di antaranya proyek rel kereta api di Kalimantan Timur dan smelter alumina di Kalimantan Barat ada pula proyek power plant (pembangkit listrik) berbahan bakar gas untuk fasilitas perakitan manufaktur di Indonesia dan keija sama dengan PT Dirgantara Indonesia,” katanya.

Selain itu, BUMN nuklir Rusia Rosatom dikabarkan tertarik menjadikan Indonesia sebagai tempat ekspansi; bisnis selanjutnya, yaitu untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Rosatom pada November 2014 telah menyatakan minat berpartisipasi dalam proyek pembangunan PLTN di Indonesia.

Menurut Rosatom, ketertarikan itu muncul karena Badan Tenaga Nuklir (Batan) bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Menengah menunjukkan niat serius untuk merealisasikan pembangunan PLTN di Indonesia.

Selain berminat investasi, Sofyan memaparkan, Rusia berkomitmen meningkatkan nilai perdagangan dengan Indonesia yang masih relatif kecil, sekitar US$ 2 miliar. Ditargetkan, nilai perdagangan Rusia – lndonesia mencapai US$ 5 miliar. Salah satu upayanya adalah masing-masing mengekspor produk andalannya.

“Kami membawa banyak contoh manufaktur dari Indonesia agar bisa diekspor ke Rusia. Sedangkan ekspor Rusia ke Indonesia adalah persenjataan dan teknologi tinggi,” tambahnya.

Adapun BKPM mencatat, realisasi investasi Rusia dalam lima tahun terakhir sekitar US$ 6,3 juta, di luar investasi sektor migas, perbankan, lembaga keuangan nonbank, asuransi, dan sewa guna usaha.

Sumber : Investor Daily April 2015

Sakana Food Depok www.sakana.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *