Revisi Harga Panas Bumi PGE Rampung Akhir 2015

energi panas bumi geothermal

Revisi harga listrik dan uap panas bumi dari sembilan proyek PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) akan mendapatkan kepastian pada akhir tahun ini. Pada 2014 lalu, PGE dan PT PLN (Persero) telah menyepakati harganya di kisaran US$ 8,4-11,6 sen per kilowatt hour (kWh).

Direktur Panas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yunus Saifulhak mengakui, proses revisi harga panas bumi bagi PGE ini berlangsung terlalu lama. Revisi tidak bisa dengan mudah dilakukan lantaran ada beberapa pihak yang khawatir untuk mengambil keputusan.

Namun, pihaknya telah menemui langsung direksi PLN untuk mengatasi hambatan tersebut. “Kami sudah fasilitasi dan telah ada jadwal penyelesaiannya, mudah-mudahan Desember tahun ini selesai,” kata dia di Jakarta, Senin (24/8),

Direktur Utama PGE Irfan Zainuddin menjelaskan, pihaknya bersama PLN telah menjalankan segala ketentuan negosiasi yang berlaku. Negosiasi ini untuk merevisi harga panas bumi yang telah ada. Keduanya telah meneken perjanjian pokok (head of agreement/HoA) yang menyepakati harga panas bumi kesembilan proyek tersebut.

Tetapi, peijanjian jual beli listrik/uap (PJBL/PJBU) baru bisa ditandatangani jika sudah ada persetujuan Menteri ESDM. “Jadi, B to B (business to business) dengan PLN sudah ada. Finalnya akan lewat PLN dan ESDM. Targetnya September atau Oktober ini bisa jalan,” tutur dia.

Dari sembilan proyek panas bumi PGE tersebut, terdapat dua proyek di mana PLN hanya membeli uap, yakni Sungai Penuh 1 dan 2 serta Hululais 1 dan 2. Sementara di WKP lain, yakni Kotamobagu 1,2,3, Lumut Balai 1,2,3,4, Ulubelu 3,4, Kamojang 5, Karaha, dan Lahendong 5,6, PLN membeli dalam bentuk listrik.

Info Terkait :   Sabang Bangun PLTP Jaboi 80 MW

Harga awal untuk uap dan listrik yang dihasilkan PGE dalam PJBL/PJBU dipatok sekitar US$ 5-8 sen per kWh. Dalam HoA yang diteken pada 2014 lalu, harga listrik disepakati di kisaran US$ 8,4-11,6 sen per kWh. Sementara untuk harga uap di Sungai Penuh dan Hululais disepakati US$ 7 per kWh.

Meski belum mendapat kepastian revisi harga, PGE tetap menggarap sembilan proyek panas bumi tersebut pada 2015 ini, anak usaha PT Pertamina (Persero) itu berencana membor 21 sumur panas bumi, yakni di Kamojang, Lahendong, Ulubelu, Lumut Balai, dan Hulu Lais. “Dari rencana 21 sumur, saat ini sudah dilaksanakan delapan sumur,” kata Irfan.

Bahkan, PGE telah mulai mengoperasikan PLTP Kamojang Unit 5 pada Juni lalu. Pembangkit itu memiliki kapasitas listrik mencapai 1×35 megawatt (MW) dengan total investasi sebesar US$ 104,03 juta.

Selanjutnya, pada tahun depan, PGE menargetkan sudah dapat mengoperasikan PLTP Karaha 1×30 MW, PLTP Ulubelu Unit-3 55 MW, PLTP Lumut Balai Unit-155 MW, dan PLTP Lahendong Unit-5 20 MW. Pada 2017, proyek PGE yang ditargetkan mulai beroperasi adalah PLTP Ulubelu Unit-4 55 MW dan PLTP Lahendong Unit-6 20 MW. Terakhir pada 2018, PLTP Lumut Balai Unit-2 55 MW akan mulai operasi.

“Dengan tuntasnya proyek-proyek tersebut, Pertamina akan memiliki kapasitas sebesar 907 MW pada tahun 2019 yang dapat menghemat penggunaan BBM sekitar 43.000 barel setara minyak per hari,” kata Direktur Utama Pertamina Dwi Soetfipto.

Info Terkait :   Pertamina Mulai Masuk Bisnis Pengembang PLTGU

Sebagai wujud komitmen Pertamina terhadap opdmalisasi kandungan lokal dan memperkuat sinergi di antara perusahaan milik negara, hampir seluruh proyek panas bumi yang dikelola oleh PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) dilaksanakan oleh PT Rekayasa Industri. Proyek-proyek tersebut diharapkan dapat menyerap tenaga keija sekitar 7 ribu orang selama proyek berlangsung.

Sumber : Investor Daily 25 Agustus 2015

Sakana Food Depok www.sakana.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *