PLN Rugi Rp 5,5 Triliun Akibat Selisih Kurs

pln-indonesia

PT PLN (Persero) merugi hingga Rp 5,5 triliun pada triwulan pertama tahun 2015, turun hingga Rp 31,8 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang labanya Rp 26,3 triliun. PLN rugi disebabkan oleh adanya selisih kurs mata uang yang cukup signifikan.

Akibat Rupiah Melemah

Dalam keterangan resminya, PLN menyebutkan kerugian pembukuan akibat konversi liabilitas valas sampai Maret lalu mencapai Rp 12,2 triliun. Kondisi ini berbeda jauh dengan triwulan pertama 2014 di mana perseroan justru mengalami laba pembukuan selisih kurs hingga Rp 16,5 triliun.

Meski demikian, PLN telah menyiapkan antisipasi atas masalah kurs ini. “Untuk mengurangi beban akibat Rupiah terdepresiasi terhadap mata uang asing terutama dollar, perusahaan pada April lalu telah melakukan transaksi lindung nilai,” demikian bunyi keterangan resmi PLN.

Pendapatan PLN juga tercatat turun pada triwulan pertama tahun ini. Pada triwulan pertama 2014, PLN mencatatkan pendapatan usaha mencapai Rp 71,4 triliun. Realisasi pendapatan ini turun 9,9% pada triwulan pertama 2015 menjadi hanya Rp 64,3 triliun. Penurunan pendapatan lantaran berkurangan subsidi listrik menyusul kenaikan tarif tenaga listrik.

Di sisi lain, pendapatan dari penjualan listrik pada triwulan pertama 2015 justru meningkat. Hingga Maret lalu, pendapatan penjualan listrik perseroan tercatat sebesar Rp 49,2 triliun. Angka ini naik 19,6% dibandingkan pendapatan pada triwulan pertama 2014 yang sebesar Rp 41,2 triliun.

Info Terkait :   Porsi PLN di Proyek 35.000 MW Bisa Bertambah

Kenaikan volume penjualan listrik menjadi salah satu pendorong peningkatan pendapatan penjualan PLN. Pada triwulan pertama 2015, penjualan listrik PLN tercatat sebesar 48,6 terawatt hour (TWh) atau naik 2,7% dibandingkan triwulan pertama tahun sebelumnya yang sebesar 47,3 TWh. “Serta adanya kenaikan harga jual rata-rata dari Rp 869,95 per kilowatt hour (kWh) pada triwulan 1-2014 menjadi Rp 1.081/kWh pada triwulan 1-2015,” sebut keterangan resmi PLN.

Adanya kerugian dan penurunan pendapatan, bukan berarti PLN tidak melakukan upaya efisiensi. Pada keterangan tertulis itu disebutkan beban usaha perusahaan hingga Maret lalu tercatat hanya Rp 51 triliun. Realisasi tersebut lebih rendah 11% dibandingkan beban usaha periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 57,3 triliun.

Penurunan ini utamanya karena berkurangnya biaya bahan bakar untuk membangkitkan listrik sebesar Rp 8 triliun atau 20,8% dari periode yang sama tahun lalu sehingga menjadi Rp 33,4 triliun. Biaya BBM turun paling tinggi, yakni Rp 9,6 triliun atau 48,5% sehingga menjadi Rp 10,2 triliun.

Mengalihkan ke Non-BBM

“Perseroan terus melakukan efisiensi dan pengendalian terhadap pengeluaran beban usaha, terutama mengalihkan biaya energi primer ke non-BBM. Selain itu juga efisiensi biaya yang merupakan controllable, cost bagi perseroan,” demikian tertulis dalam keterangan resmi PLN.

Selanjutnya, EBITDA PLN sampai Maret lalu tercatat sebesar Rp 20,5 triliun atau naik tipis dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 20,4 triliun. Peningkatan EBITDA ini menunjukkan bahwa likuiditas keuangan perusahaan semakin bagus. Selain itu juga menunjukkan kemampuan pendanaan untuk memenuhi kewajiban pokok, bunga utang, dan investasi semakin membaik.

Info Terkait :   Target 10 Pembangkit Listrik Baru di Sumatera 1290 MW

Kemudian untuk total aset perusahaan, sampai triwulan pertama tahun ini tercatat sebesar Rp 619,3 triliun atau naik 13% dibandingkan pada akhir tahun lalu sebesar Rp 611,3 triliun. Peningkatan disebabkan bertambahnya jumlah aset ketenagalistrikan sebesar 1,5% menjadi Rp 533,6 triliun pada Maret lalu. Investasi proyek pembangkit dan transmisi yang masih terus berjalan mendorong adanya peningkatan aset ketenagalistrikan tersebut.

Sumber : Investor Daily 22 Juni 2015

Sakana Food Depok www.sakana.id
Updated on     Info Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *