PLN Kaji Perubahan Frekuensi Penetapan TTL

pln-jakarta

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), tengah mengkaji perubahan frekuensi penetapan tarif tenaga listrik (TTL). Kajian dilakukan bersama enam universitas di Jawa serta Bali, dan ditargetkan rampung semester ini.

Menurut Kepala Divisi Niaga PLN Benny Marbun, kajian itu didasari masukan dari para pelaku industri. Mereka mengusulkan agar frekuensi penetapan tarif yang saat ini satu kali per bulan menjadi satu kali dalam tiga atau enam bulan. “Karena mereka (industri) dalam perencanaan pembiayaan berhubungan dengan klien, dan pelanggan dipengaruhi turun naiknya tarif listrik,” ucap Benny di Kantor Pusat PLN, Jakarta, kemarin.

Ia mengatakan PLN merespons positif usulan itu. Namun, harus ada persetujuan dari Kementerian ESDM. Benny pun mengingatkan perubahan momentum penetapan tarif bukan tanpa konsekuensi, sebab dinamika makroekonomi berpengaruh pada biaya PLN.

“Kalau kita tunggu sampai tiga bulan, ada kalanya keteteran mengejar pendapatan, sedangkan biaya sudah naik. Bisa juga ketika biaya turun, tapi karena mesti tunggu tiga bulan, benefit konsumen jadi tertunda. Ada plus minus,” terangnya. Per 1 Februari 2016, PLN menurunkan tarif listrik untuk 12 golongan tarif nonsubsidi. Tarif tegangan rendah sebesar Rp1.392/Kwh di Februari 2016, turun Rp17/Kwh dari bulan lalu, Rp1.409/Kwh.Bagi konsumen tegangan menengah, tarif turun Rp13/Kwh dari sebelumnya Rp1.084/Kwh.

“Konsumen tegangan tinggi tarifnya turun Rp11/KWh, dari sebelumnya Rp970/Kwh menjadi 959/Kwh,” pungkasnya.

Info Terkait :   Wapres Tegaskan Tidak Ada Revisi 35000 MW

Perhitungan tariff adjustment Februari 2016 berdasar besaran variabel makroekonomi Desember 2015. Saat itu, meski kurs rupiah melemah dan inflasi meningkat, harga minyak turun signifikan.

TTL-Jan-2016

Sumber : http://www.pln.co.id/blog/tarif-tenaga-listrik/

Wacana penyesuaian tarif listrik menjadi tiga atau enam bulan didukung Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo).Direktur Eksekutif Dewan Pertimbangan Apindo Agung Pambudhi menilai itu akan membuat pelaku usaha punya perancanaan keuangan lebih matang dan mapan.

“Pengusaha akan lebih terbantu dalam perencanaan jangka panjang, mulai dari estimasi biaya operasional sampai menyentuh aspek tingkat kompetitif,” komentarnya.

Sumber : Media Indonesia 2 Februari 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *