PLN Bangun GITET di Lengkong, Tangerang

pln-jakarta

PT PLN (Persero) akan membangun Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (GITET) 500 KV Lengkong di Desa Cibogo, Kecamatan Cisauk, Kabupaten Tangerang, Banten. Proyek ini dikerjakan oleh PLN Unit Induk Pembangunan (UIP) V.

Manajer Hukum Komunikasi dan Pertanahan PLN UIP V Dwi Wibihandoko mengatakan, proyek ini sesuai dengan Peta Pengembangan Jaringan Kelistrikan DKI Jakarta, Tangerang dan Banten yang tertuang dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga listrik (RUPTL) tahun 2015 – 2024.

“Ini sebagai langkah untuk meningkatkan suplai energi listrik pada sistem Jawa Bali terutama pada Provinsi Banten. Target kami di 2017 GITET Lengkong ini dapat beroperasi sehingga pembangunannya harus dilaksanakan secara cepat pada tahun 2016- 2017,” kata Dwi dalam acara pembayaran pengadaan tanah di Tangerang, Selasa (8/3).

Dwi menuturkan, rencana pembangunan GITET Lengkong dengan kapasitas 2×500 MVA ini merupakan kegiatan tapping antara Balaraja-Gandul. Ini berfungsi untuk mengevakuasi daya listrik dari pusat pembangkit listrik ke PLTU Suralaya dan IPP Lestari Banten Sinergi melalui Gardu Induk 500kV/150kV dan 150kV/20kV.

“Pembangunan GITET Lengkong ini akan berfungsi sebagai penurun tegangan khususnya pada tegangan 500kV/150kV dan 150kV/20 kV,” ujarnya.

Dikatakannya GITET Lengkong mampu mengantisipasi kerapatan beban di wilayah Banten dan sekitarnya agar tidak terjadi kelebihan beban (overload). Melalui proyek ini diharapkan akan semakin memaksimalkan kinerja PLN dalam meningkatkan pelayanan kepada pelanggan dan masyarakat untuk menyediakan penyediaan listrik dengan mudah.

Info Terkait :   Tarif Listrik Nonsubsidi Turun September 2015

Pembebasan lahan

Dwi menjelaskan proyek tersebut berdiri diatas lahan mencapai 15 hektare. Proses pembebasan lahan tersebut membutuhkan waktu sekitar satu tahun. Pembebasan lahan diawali dengan penentuan lokasi pada 2012 silam Namun pembebasan tanah tertunda karena ada perubahan mengenai Undang-Undang tentang Pengadaan tanah bagi kepentingan umum.

“Kami menunggu hingga petunjuk pelaksanaan dari tim teknis. Tahun 2015 kemarin BPN (Badan Pertahanan Nasional) kanwil (kantor wilayah) Banten menunjuk BPN Kabupaten Tangerang untuk melaksanakan proses pembebasan ini,” ujarnya.

Dia menceritakan lahan seluas 15 hektar itu dimiliki 5 orang dengan 105 bidang tanah. Sayangnya bukti kepemilikan tanah bukan dalam bentuk sertifikat. Melainkan dalam bentuk akte jual beli atau yang disebut Letter C. Hal ini membuat tim pembebasan tanah berhati-hati dalam proses identifikasi dan verifikasi.

“Ini yang agak lama karena pemilik harus bekerjasama dengan kantor desa dan kecamatan. Maka satu tahun baru proses pembebasan lahan tuntas,” ujarnya.

Dikatakannya harga tanah ditetapkan oleh tim apraisal. Tim itu yang menilai kewajaran nilai ganti rugi. Adapun besaran ganti ruginya mencapai Rp 124 miliar. Tapi lantaran dipotong pajak maka pemilik tanah mendapatkan total Rp 117 miliar.

Dwi menuturkan lima pemilik tanah sebenarnya tidak berniat menjual lahan tersebut. Lantaran lebih tertarik dibeli oleh pengembang perumahan. Namun dengan proses sosialiasi dan menjelaskan tujuan pembebasan lahan tersebut akhirnya pemilik lahan pun luluh. “Kami ucapkan terima kasih melepaskan 15 hektar. Kegiatan ini semua nantinya untuk kemaslahatan umat,” ujarnya.

Info Terkait :   Hanya Butuh 16 Ribu MW, Proyek 35 Ribu MW Tak Realistis

Dikatakannya proyek ini bergulir setelah pembayaran ganti rugi tersebut Pada 2016 dimulai dengan pengadaan. Namun Dwi mengaku belum tahu total investasi proyek GITET ini.

Di tempat yang sama perwakilan pemilik tanah Eddy Suhedi menuturkan lahan seluas 15 hektar itu merupakan tanah keluarga. Lahan itu sebelumnya digunakan untuk usaha pembuatan bata merah. Namun kini lahan tersebut tak lagi dimanfaatkan sehingga dibiarkan menjadi tanah lapang. Menurutnya hal itu disebabkan pemilik tanah berharap lahan 15 hektar bakal dilirik oleh pengemban perumahan.

Namun bukannya pengembang properti yang mengajukan penawaran melainkan PLN yang menghendaki lahan tersebut. Dia mengaku tidak yakin dengan rencana PLN yang ingin membangun proyek listrik diatas lahanya. Dengan pendekatan persuasif yang dilakukan PLN membuat pemilik tanah luluh dan mengerti tujuan dari proyek tersebut.

Sumber : Investor Daily 10 Maret 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *