Pembangkit Nuklir Perlu Kesempatan

pltn-indonesia

HASIL survei Batan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) yang menyatakan 75,3% warga Indonesia setuju akan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) mengundang kontroversi. Namun, ada pihak yang sepakat PLTN mesti diberi peluang.

Hal tersebut disampaikan anggota Dewan Energi Nasional Syamsir Abduh. Menurutnya, PLTN merupakan bagian dari pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) yang sedang gencar dikembangkan pemerintah. “Kita punya banyak energi baru dan terbarukan lain, tapi belum dioptimalkan. Berilah ruang tiap-tiap porsi EBT dikembangkan,” tutur Syamsir dalam sebuah diskusi di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, Presiden Joko Widodo sebaiknya segera memutuskan apakah Indonesia akan membangun PLTN komersial atau tidak. “Terlepas dari diskusi yang tidak habis-habisnya sejak 1950, Presiden harus ambil posisi go or not go. Komitmen itu syarat utama dari IEA (International Energy Agency). Ketika ia bilang bangun, mungkin 20 tahun lagi baru terwujud,” kata Syamsir.

Walakin, ia mengakui syarat sebuah negara membangun PLTN sangatlah sulit. Apalagi IEA menaikkan syarat lokasi pembangunan PLTN dari semula aman gempa 8 skala Richter (SR) kini jadi 9 SR. Penerimaan masyarakat akan PLTN juga wajib dikantongi pemerintah.

Syamsir berharap, meski disebut jadi opsi bontot, nuklir tidak baru dikembangkan setelah sumber lain habis. “Sudah sangat terlambat kalau setelah semua habis,” ujarnya.

Di kesempatan sama, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform Fabby Tumiwa menilai survei Batan yang menyebut 75,3% masyarakat setuju akan PLTN menarik.

Info Terkait :   Indonesia Siap, PLTN Tunggu Realisasi

“Di dalam survei. pertanyaannya, apa Anda setuju PLTN kalau PLTN bisa menyelesaikan krisis listrik? Karena pertanyaan itu, ya masyarakat setuju, yang paling banyak di luar Pulau Jawa, 79%,” sentil Fabby.

Sumber : Media Indonesia 11 Januari 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *