Pembangkit Listrik dari Pemecah Ombak (OSN Pertamina)

osn-pertamina-pemecah-ombak

Memanfaatkan material piezoelektrik, tim mahasiswa dari Universitas Brawijaya berhasil menciptakan prototipe bangunan hibrida pemecah ombak yang dapat menghasilkan listrik. Karya inovatif ini sukses menyabet gelar juara kedua dalam ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) Pertamina 2015 kategori proyek sains tingkat regional ASEAN.

Ketua tim mahasiswa Unibraw Ahmad Diyanal Arifin mengatakan karya tersebut terinspirasi dari keinginan mereka untuk membantu memenuhi kekurangan listrik di Tanah Air. Menurut Ahmad, pembangkit listrik ‘hijau’ karya mereka tersebut bisa diaplikasikan di daerah-daerah pesisir dan terpencil.

“Alat ini menggunakan tenaga ombak sebagai sumber energinya. Sangat cocok kalau bisa diterapkan di daerah-daerah pantai dan di tempat-tempat terpencil,” ujar Ahmad, seusai acara penganugerahan pemenang OSN Pertamina 2015 di Gedung Integrated Faculty Club Universitas Indonesia, Depok, Rabu (25/11) lalu.

Mengutip data Perusahaan Listrik Negara (PLN), Ahmad mengatakan kebutuhan listrik akan tumbuh rata-rata 8-9% per tahun seiring laju pertumbuhan ekonomi nasional. Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan semakin menipisnya bahan bakar fosil. Karena itu, dibutuhkan lebih banyak pembangkit listrik yang tidak menggunakan minyak bumi, gas, ataupun batu bara.

“Karena sumber energinya dari ombak, dia masuk dalam kategori renewable energy. Ke depan, pembangkit listrik seperti ini semakin dibutuhkan agar Indonesia bisa mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil yang kian menipis,” ujarnya.

Selain Ahmad, tim Unibraw beranggotakan Aprilia Trinanda Kartika dan Chikal Ayunisa Rahmadian. Prototipe yang mereka ciptakan merupakan pengembangan dari makalah bertajuk Breakwater Hybrid Building: Design of Hybrid Breakwater and Piezoelectric Based Powerplant yang diloloskan para juri ke tahapan final OSN Pertamina 2015.

Info Terkait :   Listrik Piezoelectric dari Injakan Kaki (OSN Pertamina)

Menurut Ahmad, bangunan pemecah ombak merupakan alternatif pembangkit listrik yang baik karena berpotensi mendapat energi mekanis dari ombak secara berkelanjutan. Selain itu, bangunan tersebut juga bisa meminimalisasi terjadinya abrasi.

Untuk bisa menghasilkan listrik, bangunan tersebut didesain sedemikian rupa dengan dilapisi material piezoelektrik. Material tersebut dapat mengonversi energi mekanis menjadi menjadi energi listrik. “Material ini bisa menyimpan energi tekanan atau hantaman ombak menjadi listrik,” jelas dia.

Prototipe bangunan hibrida pemecah ombak didesain di dalam sebuah akuarium yang terdiri dari tiga komponen utama, yakni pemacu ombak, penekan, rangkaian modul piezoelektrik beserta dan baterai. Ketika pemacu digerakkan, riak air akan bergerak dan menekan lapisan piezoelektrik serta mentransmisikan energi.

Saat ini, prototipe yang didesain tim Brawijaya hanya baru mampu menghasilkan listrik dalam jumlah kecil. Ahmad berharap, prototipe bangunan pemecah ombak tersebut dapat terus dikembangkan sehingga bisa diaplikasikan ke kehidup an sehari-hari.

“Kita akan terus eksplorasi agar listrik yang dihasilkan bisa lebih besar. Mungkin butuh waktu dan lebih banyak dana, tapi harapannya alat ini bisa dimanfaatkan masyarakat di pesisir sebagai sumber energi listrik,” katanya.

Berkat karya inovatifnya, Ahmad dan kawan-kawan berhak mendapatkan hadiah beasiswa senilai Rp30 juta. Tim dari Unibraw berhasil menyisihkan lebih dari 300 tim lainnya yang ikut berkompetisi dalam ajang OSN Pertamina 2015. “Saya harap ke depan ajang ini terus berlanjut dan melahirkan lebih banyak karya-karya yang bermanfaat bagi bangsa,” ujar Ahmad. (Deo/S-25)

Info Terkait :   Listrik Piezoelectric dari Injakan Kaki (OSN Pertamina)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *