Nusantara Infrastructure Bangun PLTA Lariang US$ 376 Juta

pembangkit-listrik-tenaga-air

PT Nusantara Infrastructure melalui PT Energi Infranusantara akan membangun pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Lariang 127 megawatt (MW) di Mamuju Utara, Sulawesi Barat. Nilai investasi proyek ini diperkirakan mencapai US$ 376 juta.

Direktur Utama Energi Infranusantara Ruswin Nazsir mengatakan, pihaknya telah memperoleh perpanjangan izin prinsip untuk proyek ini dari pemerintah setempat. Selain itu, pihaknya juga telah meneken memorandum of agreement (MoA) dengan mitra yakni SN Power asal Norwegia dan Aboitiz Power dari Filipina. Nilai investasi proyek ini diperkirakan mencapai US$ 376 juta.

“Pembangkit ini akan COD (commercial on date) atau mulai beroperasi sekitar lima tahun lagi,” kata dia usai penandatanganan MoA di Mamuju Utara, Senin (28/9) .

Dia menjelaskan, pasca penandatanganan, perusahaan akan melakukan kajian kelayakan (feasibility studies/FS) selama satu sampai dua tahun. Proses ini disebutnya dapat dipercepat jika ada dukungan dari pemerintah daerah setempat. Setelah itu, perusahaan akan mengurus segala perizinan dan membuat perjanjian jual beli listrik (power purchase agreement/PPA) dengan PT PLN (Persero).

“Setelah itu baru proyek masuk tahap konstruksi yang memakan waktu sekitar tiga tahun. Jadi dalam lima tahun PLTA bisa memasok listrik ke Mamuju Utara,” jelas Ruswin. PLTA Lariang dapat melistriki sekitar 150-200 ribu kepala keluarga.

Ruswin menuturkan, perusahaan berkomitmen untuk membangun infrastruktur dalam memenuhi kebutuhan listik bagi masyarakat Mamuju Utara. Perusahaan percaya bahwa pembangunan dan pengadaan listrik ini akan menjadi satu kunci peningkatan ekonomi di Mamuju Utara dengan luas wilayah 3.043,75 kilometer persegi dan jumlah penduduknya mencapai 215.345 jiwa.

Info Terkait :   Freeport Siap Beli Listrik PLTA Urumuka

“Kebutuhan akan ketersediaan listrik sangat penting bagi rakyat, karena listrik adalah infrastruktur hulu yang menjadi motor penggerak ekonomi” ujarnya.

Pihaknya berjanji akan mengupayakan pembangunan PLTA Lariang tidak merusak lingkungan sehingga merugikan masyarakat yang memanfaatkan Sungai Lariang. Selain itu, perusahaan akan seoptimal mungkin menyerap tenaga lokal sesuai dengan kompetensinya.

General Manager Corporate Affairs Nusantara Infrastructure Deden Rochmawaty mengatakan, kerjasama dengan para investor dari Norwegia dan Filipina tersebut sebagai bagian dari komitmen perseroan untuk memberikan kontribusi maksimal bagi shareholder dan seluruh stakeholder. Bagi Nusantara Infrastructure kerjasama dengan SN Power dan Aboitiz Power merupakan suatu prestasi yang positif, karena perusahaan tersebut sangat selektif dalam memilih partner strategis untuk mengembangkan sayap bisnisnya di Asia Tenggara.

“Selain membuktikan bahwa Good Corporate Governance perusahaan berjalan baik, hal ini menjadi strategi perusahaan untuk mengantisipasi proyek-proyek infrastruktur yang tengah dicanangkan pemerintah Jokowi dengan menggandeng mitra kerja yang kompeten dan ahli di bidang pengembangan renewable energy,” jelas Deden.

Dukungan Penuh dari Pemerintah Daerah

Bupati Mamuju Utara Agus Ambo Djiwa mendukung penuh pembangunan PLTA Lariang di wilayah yang dipimpinnya. Pihaknya siap membantu dan memberi kemudahan bagi perusahaan agar pembangunan PLTA ini segera terealisasi. Sehingga, pasokan listrik tidak lagi menjadi masalah di daerahnya.

“Kami permudah perizinan, silahkan dlnas terkait perizinan dipercepat dan tidak perlu rumit,” kata dia Bupati juga mengajak warganya menjaga keamanan lantaran proyek pembangkit ini menghabiskan dana cukup besar. “Ini jaminan supaya orang mau investasi di Mamuju Utara,” tambah dia.

Info Terkait :   Dampak Kemarau, Waduk Kering dan Produksi PLTA Turun

Selain itu, lanjut dia, pemerintah melalui PLN juga akan membangun gardu induk dan jaringan transmisi tegangan tinggi di wilayahnya. Adanya infrastruktur ini diharapkan bisa mempercepat dan memudahkan pembangunan PLTA Lariang.

Agus mengakui saat ini pasokan listrik di Mamuju Utara, bahkan di Sulawesi Barat, masih sangat minim. Dari sekitar 50 ribu kepala keluarga di Mamuju Utara, baru sekitar 2000 yang terlayani. Padahal, terdapat beberapa perusahaan yang akan membangun pabrik biodiesel, pabrik besi, galangan kapal, dan pabrik pengolahan mineral (smelter) di Mamuju Utara.

Realisasi dari rencana investasi beberapa perusahaan itu disebutnya masih terganjal oleh minimnya pasokan listrik. “Jadi pasokan listrik ini sangat dibutuhkan. Kalau tidak ada listrik, perekonomian tidak bisa berkembang,” tegas dia.

Dia optimistis, jika industri di Mamuju Utara berkembang, maka kondisi ekonomi rakyatnya juga akan semakin membaik.

Sumber : Investor Daily 29 September 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *