Menristekdikti Minta PLTH Pandansimo Diperbaiki

plth pandansimo

PLTH Pandansimo akan direvitalisasi karena kini tidak lagi berfungsi optimal untuk memasok listrik kepada masyarakat. Pemerintah akan merevitalisasi Pembangkit Listrik Tenaga Hibrid Pandansimo di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi M Nasir meminta agar peralatan-peralatan pada pembangkit listrik tenaga hibrida (PLTH) di Pantai Pandansimo diperbaiki.

“Bulan lalu diinformasikan kepada saya bahwa PLTH yang ada di sini masih kurang efektif, juga masalah angin. Makanya kita ingin coba perbaiki di mana masalah itu. Kemudian bagaimana peralatan di sini harus kita optimalkan,” katanya saat berkunjung ke Pantai Pandansimo, Sabtu (15/4).

PLTH Pandansimo merupakan pembangkit listrik yang mengandalkan dua tenaga, yakni energi matahari dan angin. PLTH yang mulai beroperasi tahun 2011 itu dapat menghasilkan listrik 90 kilowatt. Lokasi PLTH tersebut di dekat Pantai Baru, salah satu obyek wisata pantai di Kabupaten Bantul.

Menteri juga berharap para peneliti bisa mengecek pemanfaatan solar cell, inverter, dan baterai dalam PLTH ini agar bisa terintegrasi dengan baik dan menghasilkan energi untuk pembuatan es dan bermanfaat bagi para nelayan.

“Setelah saya lihat, banyak peralatan di PLTH ini yang sudah aus sehingga tidak berfungsi seperti sediakala,” kata Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir seusai mengunjungi PLTH Pandansimo di Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan, Bantul, Sabtu (15/4).

PLTH di Bantul terdiri atas kincir-kincir angin serta ruang penyimpanan energi listrik yang dihasilkan pembangkit.

Sebelum meninjau PLTH, Menteri M Nasir terlebih dulu meninjau workshop atau bengkel panel surya PLTH.

Nasir mengatakan, peralatan di PLTH Pandansimo yang sudah aus, antara lain, inverter yang berfungsi memindahkan energi listrik dari panel surya ke baterai atau aki. Selain itu, baterai di PLTH Pandansimo juga harus diganti karena tidak lagi berfungsi optimal. “Baterai ini menjadi masalah paling besar di PLTH Pandansimo,” katanya.

Dikatakannya, masalah yang timbul terutama pada baterai seperti yang terjadi di PLTH Pantai Pandansimo itu memang bisa saja terjadi. Apalagi sejauh ini teknologi baterai di Indonesia masih sangat ketinggalan. Karena itu pula, ujarnya, perlu ada pengembangan teknologi baterai di Indonesia.

Menurut M Nasir, memang sudah mulai dilakukan pengembangan dalam teknologi baterai dengan melibatkan beberapa perguruan tinggi seperti ITB, UNS, dan UI.

Universitas Indonesia sudah memiliki tim riset Tropical Renewable Energy Center yang juga meriset teknologi baru baterai untuk renewable energy.

“Untuk itu ke depan kita akan perbaiki baterainya dengan teknologi terbaru,” kata dia.

Namun, untuk anggaran, Menristek dan Dikti mengaku masih belum mengetahui secara persis.

“Mudah-mudahan di 2017 ini kalau ada anggaran yang memungkinkan akan kita geser terhadap kebutuhan riset ini,” katanya.

Menyinggung soal kunjungannya ke PLTH Pantai Pandansimo itu, Menristek dan Dikti menjelaskan hal itu untuk kepentingan penelitian dan hasilnya juga dapat dimanfaatkan masyarakat setempat.

Listrik yang dihasilkan PLTH Pandansimo dimanfaatkan untuk irigasi lahan pertanian, penerangan jalan, dan menyuplai listrik bagi para pemilik warung makan di sekitar Pantai Baru. Selain itu, listrik dari PLTH juga digunakan untuk menggerakkan pompa air yang menyuplai air bersih kepada para pemilik warung di sekitar Pantai Baru.

Menurut Nasir, revitalisasi PLTH Pandansimo harus segera dilakukan karena pembangkit listrik itu juga menjadi tempat riset bagi para mahasiswa yang ingin mempelajari energi terbarukan, khususnya terkait PLTH. “Sudah ada mahasiswa S-1, S-2, dan S-3 yang melakukan riset di PLTH ini,” katanya.

Dia menambahkan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi akan menganggarkan dana untuk merevitalisasi PLTH Pandansimo. Namun, Nasir belum bisa memastikan jumlah anggaran untuk revitalisasi itu. “Yang jelas, kami berharap, perbaikan ini bisa selesai tahun ini,” ujarnya.

PLTH Pandansimo : 36 Kincir Angin & 200 Panel Surya

Kepala PLTH Pandansimo Iwan Fahmiharja menjelaskan, PLTH Pandansimo memiliki 36 kincir angin dengan ketinggian 15 meter dan diameter baling-baling 3 meter. Dari 36 kincir, sekitar 80 persen berfungsi. “Sekitar 20 persen kincir tidak berfungsi, antara lain, karena generatornya rusak,” katanya.

PLTH Pandansimo juga memiliki sekitar 200 panel surya yang saat ini semuanya masih berfungsi. Pembangkit listrik itu mulanya berada di bawah Kementerian Riset dan Teknologi, lalu dialihkan ke Pemerintah Kabupaten Bantul, tetapi kemudian dialihkan ke Pemerintah Daerah DIY mulai tahun ini.

Kepala Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, Energi, dan Sumber Daya Mineral DIY Edi Indrajaya mengatakan baru dapat menyiapkan anggaran Rp 240 juta untuk pengelolaan PLTH Pandansimo pada 2017. “Untuk membayar honor tujuh pegawai PLTH Pandansimo, tahun ini kami anggarkan Rp 200 juta. Sementara untuk operasional, kami anggarkan Rp 40 juta,” katanya.

Pengurus Kelompok Sadar Wisata Pantai Baru, Jumali (62), mengatakan, ada sekitar 70 warung makan di Pantai Baru yang mendapat suplai listrik dari PLTH Pandansimo. “Setiap warung mendapat listrik dengan daya 350 watt dan kami membayar Rp 25.000 hingga Rp 30.000 per bulan. Jadi, biayanya tergolong murah,” katanya.

Sumber : Media Indonesia 16-17 April 2017

One thought on “Menristekdikti Minta PLTH Pandansimo Diperbaiki

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *