Memacu Energi Terbarukan Menuju 10 Besar Dunia

renewable-energy-indonesia

Kebutuhan Energi RI dan Dunia

Saat ini, kebutuhan energi dunia diperkirakan meningkat cukup tinggi seiring dengan pertumbuhan populasi dan perkembangan ekonomi dunia. Di sisi lain, laporan Energy Information Administration (EIA) Januari 2016 juga mencatat, terdapat peningkatan stok minyak mentah sebesar 7,5 juta barel, stok distillate sebesar 7,4 juta barel dan stok gasoline sebesar 27,1 juta barel di Amerika Serikat, dibandingkan stok pada akhir Desember 2015.

Negara-negara di dunia tampaknya tengah berupaya mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan semakin serius mengembangkan penggunaan EBT di negara masing-masing untuk mengatasi masalah kebutuhan energi.

Indonesia sebagai salah satu negara dengan potensi pertumbuhan ekonomi terkuat di dunia juga membutuhkan pasokan energi yang sangatbesar. Berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS), tahun 2020 dan 2025 mendatang penduduk Indonesia mencapai angka 271 juta orang dan 284 juta orang. Sementara itu, rasio elektrifikasi ditargetkan mendekati 100% tahun 2020, di mana kebutuhan energi terdistribusi pada rumah tangga, pemerintah, industri, dan transportasi.

Sementara itu, data pemerintah mencatat target lifting minyak 2016 sekitar 830 ribu-850 ribu barel per hari (bph), atau naik 3% dari target lifting Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2015 sebesar 825 ribu bph. Padahal, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) Indonesia tahun 2015 sudah di atas 1,5 juta bph. Artinya, Indonesia mengimpor sekitar 81% minyak untuk konsumsi domestik.

Info Terkait :   Energi Baru Terbarukan Butuh Investasi Rp 402 T

Dengan asumsi harga Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN 2016 sekitar US$ 30-50 per barel, maka potential loss uang negara yang terbuang untuk mengimpor minyak mentah mencapai US$ 20,25 juta hingga US$ 33,75 juta per hari. Angka ini setara dengan Rp 2,77 triliun – Rp 4,62 triliun per hari.

Indonesia mestinya bisa irit jika mulai memanfaatkan energi baru dan terbarukan yang begitu berlimpah di dalam negeri. Kementerian ESDM, misalnya, mencatat, Indonesia memiliki potensi EBT hingga 866 ribu megawatt (MW) dari semua sumber energi seperti angin, air dan surya yang tersebar di setiap daerah.

Komposisinya terdiri atas mini/micro hydro sebesar 450 Megawatt (MW), biomasa 50GW, energi surya 4,80 kWh/m2/hari, energi angin 3-6 m/det dan energi nuklir 3 GW. Meski demikian, Indonesia baru bisa memanfaatkan 1% saja, atau sebesar 8.600 MW.

Sementara itu, kontribusi EBT dalam bauran energi primer nasional pada tahun 2025 mencapai kisaran 17%. Komposisinya, bahan bakar nabati sebesar 5%, panas bumi 5%, biomasa, nuklir, air, surya, dan angin 5%, serta batubara yang dicairkan sebesar 2%.

Hingga saat ini beberapacapaian angka dari EBT di Indonesia yang layak menjadi perhatian serius pemerintah. Pertama, energi dari gelombang laut Indonesia dengan kapasitas terpasang hanya 1,1 MW dari total potensi daya sebesar 240 GWe. Bahkan, estimasi potensi listrik dari energi gelombang di Indonesia mencapai 20-70 MW/in.

Info Terkait :   Pembangkit Energi Terbarukan Terhambat Regulasi

Kedua, energi panas bumi yang hingga kini telah menghasilkan setara 1.226 MW dari total potensi panas bumi yang mencapai 29.215 MW.

Ketiga, energi dari pembangkit listrik tenaga biomassa yang mencapai 900 kW yang telah diperdagangkan, juga pembangkit listrik tenaga air sebesar 40 MW, hingga pembangkit listrik tenaga bayu 70 MW. Dalam hal ini, termasuk beberapa memorandum of understanding (MoU) yang ditandatangani terkait pengembangan EBT, seperti pembangkit listrik tenaga arus laut, pembangkit listrik tenaga biogas rumput laut, pembangkit listrik tenaga gelombang laut, dan lain-lain.

Sakana Food Depok www.sakana.id

Baca Halaman:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *