Megaproyek Listrik Masuki Babak Baru

program-35000-MW

Pemerintah mesti berhati-hati dalam memacu proyek kelistrikan yang hanya mengejar kekosongan, tapi akhirnya malah bermasalah dalam kualitas.

Awal 2016 ini boleh disebut sebagai tahapan penting bagi proyek kelistrikan nasional. Pasalnya, meski masih kecil, sebagian dari megaproyek listrik 35 ribu megawatt (MW) dapat beroperasi pada bulan pembuka tahun ini.

Pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) di Gorontalo berkapasitas total 100 MW menjadi pembangkit pertama yang sebagian instalasinya sudah bisa dioperasikan di Januari 2016.

“Dari total semuanya 100 MW yang terdiri dari empat unit pembangkit, dua di antaranya bisa dioperasikan minggu depan dengan total kapasitas 50 MW,” kata Direktur Perencanaan Korporat PT PLN (persero) Nike Widyawati di Jakarta, kemarin.

Di tempat sama, Direktur Bisnis Regional Sulawesi dan Nusa Tenggara PLN Machnizon Masri merinci, PLTG Gorontalo terdiri dari empat unit generator yang masing-masing berkapasitas 25 MW. Mesin turbin tipe TM 2500+ buatan General Electric di Hungaria telah terpasang di tiap unitnya.

“Dua mesin sudah beroperasi. Sisanya akan beroperasi pada Februari 2016,” timpal Machnizon.

Secara umum, Nike menjelaskan megaproyek 35 ribu MW telah berjalan sesuai progres.

Hingga akhir tahun lalu, total jumlah kontrak IPP dan EPC mencapai 17.331 MW atau hampir separuh dari total.

Adapun untuk 2016, PLN menargetkan penandatanganan perjanjian jual beli tenaga listrik (power purchase agree ment/PPA) sebesar 15.533 MW untuk 37 proyek sampai Juni 2016. Itu terdiri dari pengadaan proyek sebelumnya 8.368 MW (19 proyek) dan pengadaan baru 7.165 MW (18 proyek).

Info Terkait :   Subsidi Dicabut Jokowi : Perlu Rekonsiliasi Data Keluarga Miskin

Nike menyebut PLN menetapkan target itu sesuai jangka waktu pengerjaan proyek.

“Proyek skala besar yang butuh empat tahun ditandatangani tahun kemarin, yang tiga tahun ditandatangani tahun ini, dan sisanya tahun depan.” Demi memperbaiki kualitas proyek di masa datang, lanjut Nike, mulai tahun ini PLN mengubah persyaratan pengadaan. Salah satunya pada poin persyaratan untuk perfomance bond, dari sebelumnya hanya 1% kini dinaikkan menjadi 10% dari total project cost.

Juga pada syarat project development account sebesar 10% total project cost yang ditempatkan di bank pemerintah Indonesia. Sebelumnya, project development account minimal US$5 juta. Perubahan-perubahan itu diharapkan dapat menghasilkan capital inflow setiap project IPP melalui bank pemerintah Indonesia. Selain itu, target beroperasi proyek lebih terjamin karena pengembang akan lebih berhati-hati dan serius.”Sekaligus mencegah calon pengembang abal-abal untuk mengikuti proyek strategis IPP,” tukas Nike.

Di sisi lain, Jim Schnieders, Country Manager & Senior Vice President Black & Veatch Indonesia mengingatkan agar pemerintah tak asal memacu megaproyek listrik itu tanpa kebijakan yang kuat.

“Kita tidak ingin melihat sejumlah proyek berisiko karena dipacu untuk mengisi kekosongan dan akhirnya bermasalah dalam kualitas. Program pengembangan kelistrikan ini perlu dikaji kembali sehingga menghasilkan solusi lebih baik,” ungkap Schnieders dalam keterangan pers, akhir pekan lalu.

Sumber : Media Indonesia 21 Januari 2016

Info Terkait :   Perkuat Jakarta-Banten, PLN Operasikan 3 Gardu Induk
Updated on     Info Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *