Listrik Untuk Mendorong Perekonomian oleh Tumiran

Dewan Energi Nasional DEN Tumiran

Di awal pemerintahannya, Presiden Joko Widodo menekankan pentingnya pembangunan pembangkit listrik lantaran masih banyak daerah yang terkena pemadaman listrik bergilir.

Presiden pun mematok rencana pembangunan pembangkit sebesar 35 gigawatt (GW).

Namun, hingga saat ini, di setiap kunjungan daerah Presiden, masyarakat masih mengeluhkan minimnya pasokan listrik ke rumah-rumah mereka.

Pembangunan pembangkit pun diduga berjalan lambat sehingga belum mampu mengubah kondisi kelistrikan di Tanah Air.

Wartawan Media Indonesia Jessica Restiana Sihite berkesempatan mewawancarai anggota Dewan Energi Nasional (DEN) dari kalangan akademisi, Tumiran.

Dia mengungkapkan kondisi kelistrikan nasional dengan berbagai hambatan dan tantangan yang ada.

Berikut kutipan wawancara dengan Tumiran di Kantor DEN, Jakarta, Kamis (9/3).

Bagaimana Anda melihat kondisi kelistrikan Indonesia saat ini?

Kelistrikan itu harus ada pemahaman yang komprehensif bahwa listrik itu bagian dari infrastruktur nasional yang memang diperankan untuk mendorong perekonomian.

Yang dimaksud menggerakkan perekonomian ialah bisa memunculkan industri.

Industri muncul, lapangan kerja tercipta. Adanya lapangan kerja bisa meningkatkan daya saing kita secara ekonomi, sosial, dan budaya.

Kemudian, produk bisa dihasilkan di dalam negeri.

Akan tetapi, kalau listrik tidak ada, industri tidak tumbuh, lapangan kerja tidak tercipta, penghasilan masyarakat tidak bisa tinggi.

Itu yang harus diperhatikan saat ini.

Untuk menjadi penggerak perekonomian, ada tiga syarat.

Pertama, harus cukup suplainya.

Kedua, listrik itu andal alias tidak mudah mati.

Info Terkait :   Pengelola Listrik Jangan Merugikan

Ketiga, ekonomis atau harga jangan terlalu mahal.

Makanya kita harus mengupayakan bagaimana harga listrik itu harus mengarah keekonomian berkeadilan supaya industri bisa berdaya saing.

Apa bisa harga listrik itu murah?

Mestinya bisa karena kita punya batu bara.

Itu kita andalkan dulu untuk mendorong perekonomian kita.

Lalu, bagaimana kondisi kelistrikan kita?

Kita masih kekurangan pasokan.

Sangat kurang.

Bayangkan, kapasitas listrik kita masih 58 gigawatt (GW).

Artinya, pasokan per kapita baru 210 watt per kapita. Bisa apa kita dengan besar itu? Itu pasokan.

Bandingkan dengan Tiongkok.

Mereka sudah punya 1.508 GW dan jika dibandingkan dengan total penduduknya yang sekitar 1,38 miliar, pasokan mereka sudah di atas 1.100 watt per kapita.

Gap terlalu jauh.

Malaysia itu, kapasitas pasokannya 950 watt per kapita.

Singapura 2.500 watt per kapita.

Jadi, kalau dilihat angka itu, kita sangat kurang.

Baca Halaman:

Updated on     Info Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *