Listrik Piezoelectric dari Injakan Kaki (OSN Pertamina)

osn-pertamina-piezoelectric

Terinspirasi dari permainan menari elektronik yang digemari anak-anak, tim mahasiswa Universitas Indonesia (UI) mampu menciptakan prototipe penghasil listrik berbasis tenaga kinetik dari pijakan kaki. Berkat alat yang dinamai Piezoelectric Harvesting Technology (Pie-Hat) itu, tim UI didapuk menjadi juara ketiga dalam ajang Olimpiade Sains Pertamina 2015 kategori proyek sains tingkat regional ASEAN.

“Idenya muncul ketika melihat permainan dance yang suka dimainkan anak-anak di mal-mal. Dari gerakan menginjak lantai itu ada energi yang dihasilkan,” ujar ketua tim mahasiswa UI Rana Bouzida seusai acara penganugerahan pemenang OSN Pertamina 2015 di Gedung Integrated Faculty Club Universitas Indonesia, Depok, Rabu (26/11) lalu.

Selain Rana, tim mahasiswa UI beranggotakan Riffal Ruchiandrean dan Sulkhan Arrosyid. Prototipe yang mereka ciptakan merupakanpengembangan dari makalah bertajuk ‘Pie-Hat (Piezoelectric Harvesting Technology) as Renewable Energy for Illumination in Railway Station’ yang diloloskan para juri ketahapan final OSN Pertamina 2015.

Menurut Rana, Pie-Hat didesain untuk diaplikasikan di stasiun-stasiun kereta yang banyak penumpangnya. Secara sederhana, prototipe yang mereka ciptakan terdiri dari tiga komponen, yakni lapisan material piezoelectric, alat konventer listrik, dan baterai. “Alat ini cocok ditempatkan di stasiun-stasiun KRL commuter line. Ini adalah moda transportasi favorit publik di Jabodetabek. Setiap hari, penggunanya banyak sekali,” ujar dia.

Rana dan kawan-kawannya menciptakan miniatur Stasiun Bogor untuk menjelaskan pengaplikasian Pie-Hat. Pada model yang mereka ciptakan, terlihat material piezoelectric yang ditempatkan di lantai gerbang, koridor, dan area seputar kereta.

Info Terkait :   Pembangkit Listrik dari Pemecah Ombak (OSN Pertamina)

“Tempat-tempat ini selalu dikunjungi orang-orang. Jadi kita pikir akan efektif kalau kita memanen listrik dari sana. Tidak perlu merusak lantai, hanya dilapisi saja dengan material piezoelectric,” imbuhnya.

Material piezoelectric, jelas Rana, dapat mengonversi energi mekanis menjadi menjadi energi listrik. “Piezoelectric adalah efek yang menghasilkan listrik dari tekanan atau kompresi. Sederhananya, langkah atau pijakan kaki para pengguna kereta api itu diubah menjadi listrik menggunakan alat kami,” ujar dia.

Rana dan kawan-kawan menghabiskan lebih dari Rp10 juta untuk menciptakan prototipe Pie-Hat. Eks perimen yang dilakukan menggunakan model analisis matematis.

Jika diaplikasikan, alat yang mereka ciptakan setidaknya mampu menghasilkan listrik hingga 1,3 kilojoule setiap hari.

“Kita coba di Stasiun Bogor sebagai model dan jumlah yang dihasilkan segitu. Angka ini sebenarnya jauh lebih besar dari ekspektasi kita,” kata dia.

Listrik yang dihasilkan kemudian disimpan ke dalam baterai. Menurut Rana, jumlah listrik yang dihasilkan cukup untuk menyalakan 6 lampu LED masing-masing berdaya 5 watt.

“12 jam, dari pagi hingga siang, kita panen listriknya. Dipakainya nanti pas malam. Ini bisa jadi solusi energi baru dan terbarukan untuk mengurangi suplai listrik dari PLN,” jelas Rana.

Sumber : Media Indonesia 2 Desember 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *