Lembaga Keuangan Dukung Pengembangan EBT

renewable-energy-indonesia

Lembaga keuangan nonbank siap mendukung kebutuhan pendanaan program percepatan pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT). Dukungan tersebut diberikan dalam bentuk penempatan investasi pada instrumen pendanaan, untuk mendanai proyek-proyek EBT yang pada tahap awal diperkirakan mencapai Rp 1 triliun.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman Hadad menuturkan, melalui penandatanganan nota kesepahaman antara OJK dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), peran lembaga jasa keuangan akan ditingkatkan untuk mempercepat pengembangan EBT. Pada tahap awal, menurut dia. Lembaga-lembaga keuangan akan menempatkan dana pada instrumen investasi untuk mendanai proyek EBT sebesar Rp 1 triliun, dan berpotensi meningkat menjadi Rp 3 triliun pada tahun-tahun mendatang.

“Ini berawal dan concern kami terkait adanya kebutuhan pendanaan yang cukup besar dalam mendukung program pembangunan nasional, khususnya dalam pencarian sumber-sumber energi baru, energi terbarukan dan konservasi energi,” ujar Muliaman pada acara penandatanganan nota kesepahaman OJK dengan Kementerian ESDM di Jakarta, Rabu (3/1).

Muliaman menjelaskan, pihaknya memahami kondisi dunia kelistrikan dan elektrifikasi nasional yang saat ini baru mencapai 88,33% dan masih terdapat 7.500 dari 72 ribu desa yang belum menikmati aliran listrik. Untuk itu, Indonesia tidak bisa hanya bergantung pada pembiayaan dari pemerintah yang bersumber dari APBN dan APBD.

Di sisi lain, menurut dia, sektor lembaga jasa keuangan memiliki potensi besar dan bersifat jangka panjang untuk berperan dalam pembangunan nasional. Selain itu, terdapat kebutuhan pelaku sektor jasa keuangan untuk mencari alternatif investasi di sektor riil yang dapat memberikan return optimal.

“Melalui nota kesepahaman ini, concern tersebut dapat dijembatani dan diwujudkan, sehingga dapatkan menghasilkan sinergi yang mampu meningkatkan kesejahteraan dan kemajuan bangsa,” terang dia.

Info Terkait :   BNI Berupaya Tingkatkan Pembiayaan ke Energi Terbarukan

Setelah penandatangan nota kesepahaman tersebut, menurut Muliaman, OJK segera meluncurkan kelompok kerja (pokja) energi baru, energi terbarukan, dan konservasi energi. Pokja ini merupakan pokja keempat yang dibentuk OJK setelah Pokja Pembiayaan Kemaritiman, Pokja Sinergi IKNB (Industri Keuangan Nonbank) dan Koperasi, serta Pokja Penjaminan Pembiayaan Berorientasi Ekspor dan Ekonomi Kreatif.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penandatanganan kerjasama antara beberapa perusahaan asuransi, dana pensiun, Jamkrindo, dan BPJS Ketenegakerjaan dengan perusahaan sekuritas penerbit produk investasi yang berkomitmen mendukung pembiayaan pengadaan listrik melalui teknologi panel surya.

Deputi Komisioner Bidang Pengawasan IKNB OJK Dumoly Pardede menjelaskan sudah terdapat manner investasi, yakni Niko Asset Management yang telah memiliki produk investasi berbasis proyek EBT dengan nilai efek sekitar Rp 1 – 1,5 triliun. Adapun proyek yang akan dibiayai yakni proyek pengadaan listrik melalui teknologi panel surya 100 megawatt (MW). “Kami coba dulu dengan proyek, 100 MW yang akan masuk. Untuk yang ini yang masuk ada ASABRI, Jiwasraya, Jamkrindo, dan dapen-dapen BUMN,” terang dia.

Ke depan, menurut dia, tidak menuiup kemungkinan terdapat manajer investasi lain yang akan menerbitkan produk serupa. OJK juga menargetkan model pendanaan tersebut dapat mendanai pengadaan listrik melalui energi terbarukan sebesar 500 MW. “Targetnya ke depan 500 MW, tapi nanti dengan investor asing juga yang kami harapkan bisa masuk (menempatkan dana),” terang dia.

Sentimen Positif bagi EBT

Sementara Itu, Menteri ESDM Sudirman Said mengungkapkan, masuknya lembaga-lembaga keuangan tersebut diharapkan dapat memberikan sentimen positif bagi investasi di bidang EBT. Dengan demikian, investor diharapkan dapat lebih bergairah untuk berinvestasi pada bidang tersebut “Yang paling penting buat kami, usaha-usaha yang menyangkut beberapa titik untuk menggairahkan investasi di bidang energi terbarukan mulai ada. Ini satu inisiatif, artinya investasi di EBT aman dan didukung pemerintah.” jelas Sudirman.

Info Terkait :   Kadin Ingin Terlibat Program Ketenagalistrikan

Wakil Ketua Dewan Pakar Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Riki Firmandha juga menyambut baik kerja sama yang digulirkan Kementerian ESDM dengan OJK terkait pengembangan energi baru terbarukan. Pasalnya, pengembangan energi ini kerap terbentur dengan pendanaan lantaran belum semua perbankan tertarik untuk menggelontorkan pinjaman.

Dia berharap dengan kerjasama yang terjalin tersebut mampu menarik minat perbankan dan nonperbankan. “Kami menyambut baik MoU antara ESDM dan OJK Dengan hal ini ada semacam kepastian dari pemerintah mengenai investasi di energi baru terbarukan,” ujar dia.

Namun Riki mengingatkan pemerintah mengenai perlu adanya peta jalan (roadmap) pengembangan energi terbarukan. Pasalnya selama ini program energi terbarukan bersifat parsial. Sebagai contoh, pada era Menteri ESDM Jero Wacik ada pengembangan kemiri sunan. Namun, saat Sudirman Said menjabat menteri ESDM, kelanjutan program kemiri sunan tidak jelas. Padahal, kemiri sunan mampu tumbuh di lahan kritis seperti bekas pertambangan. Kemiri sunan bisa diolah menjadi bahan bakar nabati.

“Pemerintah hanya menetapkan bauran energi untuk energi baru terbarukan sebesar 23% tahun 2025. Tapi belum jelas seperti apa langkah strategisnya,” ujar dia.

Sumber : Investor Daily 4 Februari 2016

Sakana Food Depok www.sakana.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *