Kuartal-III 2015, Penjualan Listrik Tumbuh 1,93%

pln-indonesia

PT PLN (Persero) mencatat pertumbuhan penjualan listrik sampai September lalu mulai merangkak naik menjadi 1,93% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penjualan listrik ke pelanggan industri juga tercatat terus membaik.

Kepala Divisi Niaga PLN Benny Marbun menuturkan, pertumbuhan penjualan listrik paling tinggi tercatat terjadi di Indonesia Timur, yakni mencapai 6,55%. Selanjutnya, pertumbuhan penjualan listrik tertinggi kedua sebesar 6,04%yaitu di Pulau Sumatera. Sementara di Jawa dan Bali, penjualan listrik hanya tumbuh tipis 0,97%.

“Secara nasional, pertumbuhan penjualan listrik sampai September lalu masih bagus, yakni naik 1,93% dari periode yang sama 2014. Sementara di September saja, penjualan listrik naik 2,23% dibanding September tahun lalu,” kata dia dalam pesan singkatnya kepada Investor Daily, Minggu (17/10).

Pertumbuhan penjualan listrik ini mulai membaik sejak September lalu. Benny sempat menyebutkan, naiknya angka pertumbuhan penjualan setrum didorong oleh telah cairnya anggaran belanja pemerintah daerah. Saat ini pertumbuhan penjualan listrik telah lebih baik dari realisasi semester pertama tahun ini yang hanya naik 1,8% dibandingkan semester pertama 2014.

Berdasarkan pengamatan Investor Daily, pertumbuhan penjualan listrik membaik sejak tarif listrik non-subsidi mulai turun pada Agustus lalu. Sebagai contohnya, pada Agustus lalu, tarif listrik golongan industri I-3 tercatat sebesar Rp 1.218 per kilowatt hour (kWh) dan I-4 Rp 1.086 per kWh. Oktober ini tarif listrik golongan I-3 tercatat turun menjadi Rp 1.200 per kWh dan I-4 Rp 1.058 per kWh.

Info Terkait :   PLN Targetkan Lelang LNG pada Agustus 2015

Pertumbuhan penjualan listrik ke pelanggan industri yang sempat rendah juga mulai merangkak naik. Menurut Benny, pertumbuhan penjualan setrum ke industri menengah (I-3) tercatat mencapai 4,7% dibandingkan penjualan rata-rata bulan-bulan sebelumnya. Walaupun, angka penjualan setrum pada September lalu sedikit lebih rendah dari realisasi Agustus.

Sementara untuk penjualan listrik ke pelanggan industri besar (I-4) pada September lalu lebih baik dari realisasi Agustus. “Penjualan listrik ke pelanggan ini tumbuh 4,3% pada September dibandingkan penjualan rata-rata bulan-bulan sebelumnya,” ujar Benny.

Sayangnya, realisasi pertumbuhan penjualan listrik sebesar 1,93% sampai September ini masih jauh dari target yang ditetapkan dalam APBN. Tahun ini, sesuai APBN, penjualan listrik ditargetkan mencapai 216,39 terawatt hour (TWh) atau tumbuh 9% dari tahun lalu yang sebesar 198,52 TWh. Dengan kondisi saat ini, pertumbuhan penjualan listrik tahun ini hanya akan menyentuh 3%.

Diskon Tarif

Meski demikian, Benny menyebutkan membaiknya pertumbuhan penjualan listrik ini belum memperhitungkan dampak dari rencana pemberian diskon tarif dan penundaan pembayaran tagihan. Pasalnya, pihak PLN perlu bertemu dengan pelaku industri terlebih dahulu sebelum menerapkan kedua rencana tersebut

“Belum (diterapkan), harus ada perjanjian yang ditandatangani dulu dengan konsumen. Kami baru pekan depan bertemu dengan asosiasi industri,” jelas dia.

Seperti diketahui, PLN berencana memberikan potongan tarif listrik sebesar 30% bagi pelanggan industri. Diskon tarif itu diberikan bagi industri yang menggunakan daya listrik dari pukul 23.00 hingga 08.00. PLN mencatat saat ini terdapat 12 ribu pelanggan industri di mana sekitar 9 ribu lebih telah terbiasa beroperasi sejak pukul 23.00 sampai 08.00.

Info Terkait :   Semester I 2015, PLN Rugi Selisih Kurs Rp 10,5 T

Sementara untuk penundaan pembayaran tagihan, PLN akan membolehkan industri membayar 40% dari total tagihannya secara dicicil mulai bulan 13. Sehingga dalam satu tahun, pelaku industri hanya membayar 60% dari total tagihannya. Penundaan pembayaran ini diberikan bila pelaku industri yang bersangkutan mengajukan permintaan penundaan.

Sumber : Investor Daily 19 Oktober 2015

Sakana Food Depok www.sakana.id
Updated on     Info Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *