Investor Taiwan Produksi Trafo

trafo-sintra

Kebutuhan trafo listrik tegangan tinggi kini bakal dipasok dari produksi dalam negeri. Hal itu seiring beroperasinya pabrik PT Sintra Power Elektronik yang dikembangkan investor Taiwan Shen Chang Group dengan investasi US$20 juta (Rp 270 miliar).

Pabrik baru hasil pengembangan PT Sintra Sinarindo Elektrik tersebut akan memproduksi trafo istrik berkapasitas hingga 100 megavolt ampere (MVA) dan tegangan 150 kilovolt (kv). Dari total produksi 40 unit trafo per tahun, sejumlah 25 unit ditujukan untuk kebutuhan PT PLN (persero) dan 15 unit untuk sektor industri lain.

“Kami optimistis sekarang waktu yang tepat untuk masuk pasar karena angka pertum buhan pasar trafo mencapai 75%,” kata Direktur Sintra Power Elektrik Yohanes Purnawan Widjaja saat peresmian pabrik tersebut di Cikarang, Jawa Barat, kemarin.

Hal itu juga seiring dengan persiapan pengembangan proyek pembangkit listrik 35 ribu megawatt (MW). “Target utama 70%-80% ialah PLN. Sisanya swasta,” ucapnya.

Konsumen tersebut yakni pengembang listrik swasta (IPP) dan sektor industri lain seperti pertambangan, batu bara, kertas, dan pabrik logam. Namun, ia mengakui bahan baku trafo tersebut sebagian besar masih impor karena belum adanya pasokan dari industri dalam negeri. “Produk dalam negeri, salah satunya bahan untuk tangki,” paparnya.

Meski bukan industri padat karya, lanjutnya, pabrik trafo yang padat modal dan padat teknologi itu masih bisa menyerap 200 tenaga kerja baru.

Manager Engineering Sintra Power Elektrika, Susanto, menambahkan pihaknya optimistis produk mereka bisa dipakai PLN. “Trafo kami telah memenuhi persyaratan, terutama dari PLN,” ujarnya.

Pihaknya membanderol setiap unit trafo seharga US$850 ribu (Rp11,5 miliar). Harga tersebut sesuai patokan dari PLN untuk produsen yang akan dipilih guna mendapat kontrak memasok trafo tersebut. Di sisi lain, PT Sumberdaya Sewatama mendapat injeksi modal Rp300 miliar dari PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF). Penyertaan modal berbentuk mandatory convertible bond selama lima tahun itu untuk peningkatan ekuitas perusahaan yang akan mengembangkan listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT).

“Dari total 8.000 MW target pembangkit EBT alokasi pemerintah, kami berencana mengambil 100-150 MW untuk lima tahun ke depan. Sudah teridentifikasi empat lokasi untuk 50 MW pertama yang siap kita bangun,” terang Direktur Utama Sewatama, Elan B Fuadi, di Jakarta, kemarin.

Ia pun mengurai kebutuhan investasi US$2 juta-US$2,5 juta untuk membangun pembangkit listrik mikrohidro atau bio gas. “Sekitar Rp 27 miliar per 1 MW. Bandingkan dengan PLTU batu bara yang hanya butuh US$ 1,5 juta (Rp20,2 miliar) per 1 MW,” terang Elan.

Keempat PLTM yang akan dibangun tahun ini direncanakan berlokasi di Sulawesi Selatan. Dua pembangkit yakni PLTM Ma’dong berkapasitas 10 MW dan PLTM Sapaya (5 MW) sedang dalam tahap negosiasi power purchace agreement (PPA) dengan PLN, sedangkan PLTM Totinapo (6 MW) dan PLTM Palesan (10 MW) akan dibangun akhir 2016. Proyek itu diperkirakan mulai beroperasi dua tahun mendatang.

“Sekitar 30%-40% dari pembiayaan kami berikan untuk EBT,” papar Presiden Direktur IFF, Sukatmo Padmosukarso.

Sumber : Media Indonesia 13 Januari 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *