Indonesia Siap, PLTN Tunggu Realisasi

pltn-indonesia

Denmark berencana membuat proyek percontohan pembangkit listrik dari energi baru dan terbarukan di wilayah terpencil di Indonesia.

Badan Energi Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) menilai secara teknis Indonesia siap membangun dan mengoperasikan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Kini yang diperlukan kemauan politik pemerintah.

Kepala Divisi Departemen Tenaga Nuklir IAEA Masahiro Yagi menilai Indonesia terbilang mumpuni dalam hal jumlah sumber daya manusia yang mampu mengoperasikan PLTN. Jumlah 2.500 tenaga ahli dalam meng operasikan nuklir dinilainya sangat besar ketimbang di negara-negara lain yang biasanya hanya sekitar 1.000 pekerja.

“Kami sadar Indonesia sudah mulai membangun infrastruktur, termasuk pengembangan sumber daya manusianya. Menurut saya, jumlah 2.500 pekerja tenaga nuklir itu sudah baik,” ujar Yagi dalam diskusi diskusi bertajuk Kesiapan sumber daya manusia dan regulasi ketenaganukliran, di Jakarta, kemarin.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Syamsir Abduh mengakui dalam Pasal 11 Peraturan Pemerintah No 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional dikatakan PLTN merupakan opsi terakhir. Namun, ia meminta kalimat dalam pasal tersebut tidak dibaca sepotong.

Dalam penjelasan pasal tersebut, lanjut Syamsir, PLTN bisa dibangun dengan tiga syarat, yakni bisa menyediakan energi dalam jumlah besar, mengurangi emisi gas rumah kaca, dan untuk kepentingan yang mendesak.

Bila ditilik dari faktor kepentingan yang mendesak pun, Syamsir menyatakan dalam Rencana Umum Energi Nasional, terdapat defisit listrik hingga 10 gigawatt. Jika hanya mengandalkan energi terbarukan, defisit itu tidak bisa tertutupi.

Info Terkait :   Pemerintah Tunda Proyek Energi Nuklir

Deputi Bidang Teknologi Energi Nuklir Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Taswanda Taryo mengatakan Batan telah mengidentifikasi tiga lokasi untuk PLTN, yakni sepanjang Sumatra bagian timur, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat. “Di sana relatif tidak banyak gempa.”

Batan sedang menyiapkan desain PLTN mini berdaya 10 megawatt termal di Puspiptek Serpong. PLTN mini yang ditargetkan beroperasi 2020 itu, kata Taswanda, untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa Indonesia siap membangun PLTN dengan skala daya yang lebih besar lagi.

Denmark dorong EBT Dalam kaitan pengembangan energi baru dan terbarukan, Denmark berencana membuat proyek percontohan pembangkit listrik dari energi baru terbarukan (EBT) di wilayah terpencil di Indonesia. Proyek itu merupakan bagian dari bantuan kepada Indonesia dalam paket environmental support program (ESP). Rencana tersebut merupakan salah satu bahasan dalam kunjungan kenegaraan Ratu Denmark dan Pangeran Consort ke Indonesia, hari ini.

Duta Besar Denmark untuk Indonesia Casper Klynge menerangkan program ESP sudah diluncurkan sejak 2004. Belakangan rogram ESP yang diberikan pemerintah Denmark berfokus pada pengembangan energi baru dan terbarukan. “Jika (proyek pembangkit listrik) itu sukses, akan dilanjutkan pada skala yang lebih besar dan layak secara komersial,” ucap Klynge melalui siaran persnya.

Proyek berbasis EBT yang sudah dibangun Denmark salah satunya di Cilacap, Jawa Tengah, dengan mengubah sampah di tempat pembuangan akhir menjadi bahan bakar untuk PT Holcim Indonesia Tbk.

Info Terkait :   Pembangkit Nuklir Perlu Kesempatan

Sumber : Media Indonesia 22 Oktober 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *