Indonesia – Malaysia Kerja Sama Listrik di Perbatasan

transmisi-listrik-indonesia

Pemerintah Indonesia dan Malaysia akan bekerja sama untuk saling memasok kebutuhan listriknya. Perusahaan listrik masing-masing negara akan bersama-sama menggarap proyek pembangkit listrik di perbatasan.

Dalam pertemuan dengan Menteri Tenaga, Teknologi Hijau dan Air Malaysia Datuk Sri Panglima Maximus Johnity Ongkili, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said mengatakan, kedua negara sepakat merevitalisasi rencana pembangunan Asean Grid atau jaringan listrik lintas negara. Adanya jaringan ini dimaksudkan untuk memperkuat kedaulatan energi kawasan Asean.

ASEAN GRID

Untuk itu, saat ini tengah disiapkan proyek pembangkit listrik dan transmisi oleh kedua negara yang memungkinkan terealisasinya Asean Grid. Keduanya juga sepakat membentuk komite teknis untuk menindaklanjuti pembicaraan tersebut “Idenya adalah jika ada kelebihan listrik di Malaysia, bisa kita impor. Sebaliknya kalau kita punya kelebihan, tentu bisa kita ekspor ke Malaysia,” kata dia di Jakarta, akhir pekan lalu.

Kedua proyek itu terletak di Sumatera dan Kalimantan. Di Sumatera, PT Bukit Asam akan membangun PLTU 2 x 600 megawatt (MW) di Peranap berikut transmisinya sampai ke Teluk Gong, Malaka Malaysia. Proyek ini digarap bersama PT PLN (Persero) dan perusahaan listrik Malaysia, Tenaga Nasional Berhad.

“Proyek itu sudah mulai jalan, diharapkan pada 2019 nanti sudah bisa beroperasi secara komersial. Nanti urusannya business to business antara kedua perusahaan listrik,” jelas Sudirman.

Info Terkait :   Program Pembangkit Listrik 35000 MW

Untuk Proyek PLTU Peranap ini, Menteri Maximus menambahkan, utamanya Malaysia akan mengimpor listrik dari Indonesia. Pasalnya, kebutuhan listrik di Malaysia saat ini cukup tinggi, utamanya saat siang hari. Dengan puncak kebutuhan listrik di Indonesia terjadi pada malam hari, ekspor itu dapat dilakukan.

“Dengan begitu kami beli ekspor ini dapat direalisasikan secepat mungkin,” ujar dia. Dia juga menyebut skema yang sama juga akan dilakukan di Sabah dan Serawak. Namun, wilayah Serawak, Malaysia bisa jadi justru akan ekspor listrik ke Indonesia.

Ekspor-Impor Listrik

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jarman merinci, impor listrik akan dilakukan Malaysia untuk Sabah, sementara ekspor dilakukan di Serawak. Bekerja sama dengan Sabah Energi Sdn Bhd (SESB), PLN akan membangun pembangkit listrik di Tarakan berikut transmisinya sampai Sabah. Dari Tarakan ini, Malaysia rencananya akan mengimpor 300 MW untuk memenuhi kebutuhan listrik Sabah.

“Sekarang sedang dijajaki ekspor dari Kalimantan Utara ke Sabah sekitar 300 MW untuk tahap pertama. Tentu nanti pembangkit yang dibangun kapasitasnya lebih dari itu,” tutur Jarman.

Sementara dengan Serawak Energi Berhad (SEB), lanjut dia, Indonesia akan mengimpor listrik untuk memenuhi kebutuhan listrik di Pontianak, Kalimantan Barat Pasokan setrum akan berasal dari PLTU di Kuching. “Untuk tahap pertama impor 50 MW. Impor dilakukan dalam waktu dekat ini begitu l transmisi selesai,” ujar dia. Harga listriknya sekitar US$ 9 sen per kilowatt hour (kWh).

Info Terkait :   Tarif Listrik Non-Subsidi Turun Agustus 2015

Interkoneksi Kalimantan-Serawak tersebut akan menggunakan transmisi 275 kV sepanjang 122 kilometer dari Bengkayang, Kalimantan Barat hingga Mambong, Serawak. Sepanjang 86 kilometer akan berada di Kalimantan Barat dan sisanya 36 kilometer di Serawak.

Kerja sama jual beli listrik antara PLN dan SEB akan berlangsung selama 25 tahun dan terbagi dalam dua tahap. Selama lima tahun tahap pertama, PLN akan mengimpor setrum dari SEB. Tahap kedua, PLN dan SEB akan jual-beli listrik berdasarkan keekonomian kedua sistem tenaga listrik atau economic exchange power transfer dengan menggunakan prinsip day-head agreement.

Sumber : Investor Daily 29 Juni 2015

Sakana Food Depok www.sakana.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *