Freeport Siap Beli Listrik PLTA Urumuka

freeport-indonesia

PT Freeport Indonesia menyatakan kesediaannya sebagai pembeli listrik (off taker) PLTA Urumuka di Kabupaten Paniai, Papua. Namun hal itu dilakukan dengan syarat jika perusahaan tambang asal Amerika Serikat itu mendapat kepastian operasi pasca berakhirnya kontrak pada 2021.

“Freeport mau jadi off taker kalau ada kepastian perpanjangan. Ini bagian dari program percepatan pembangunan Papua. Jadi enggak ada kaitannya dengan itu (permintaan dari anggota dewan) kata Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Said Didu ketika dihubungi dari Jakarta, Selasa (17/11).

PLTA Urumuka 300 MW

Said menjelaskan proyek ini masih terkantung lantaran pihak pengembang menunggu kepastian off taker tersebut. PLTA ini mampu menghasilkan daya hingga 300 megawatt (MW). Dia menegaskan Freeport bukan sebagai pihak yang menggarap proyek tersebut. Proyek tersebut pun tidak dibiayai oleh pemerintah pusat. “Kalau tidak ada off taker yang tidak mungkin dibangun jelasnya.

Secara terpisah, Juru Bicara Freeport Indonesia Riza Pratama belum bisa menjelaskan terkait kesediaan menyerap pasokan listrik dari PLTA. “Saya belum dapat infonya,” ujarnya.

Nama PLTA Urumuka mencuat seiring dengan pelaporan Menteri ESDM ke Mahkamah Kehormatan Dewan Perwakilan Rakyat (MKD) terkait dugaan pencatutan nama Presiden dan Wakil Presiden oleh oknum anggota DPR dan pengusaha. Aksi pencatutan itu untuk mendapatkan saham Freeport Indonesia dengan menjanjikan suatu cara penyelesaian tentang kelanjutan kontrak Freeport Selain itu, kedua orang yang dilaporkan itu juga meminta bagian saham dari proyek listrik yang akan dibangun di Timika, Papua. “Mereka ingin 49% saham dan 51% Freeport yang investasi dan meminta Freeport membeli tenaga listriknya,” ujar Sudirman.

Info Terkait :   PLTA Musi - Bengkulu

PLTA Urumuka dibangun oleh Pemerintah Provinsi Papua. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menetapkan mantan Gubernur Papua Barnabas Seubu sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi proyek PLTA Urumuka pada akhir 2014 kemarin. Dugaan korupsi itu lantaran pelaksanaan lelang Detailed Engineering Design (DED) dilakukan secara fiktif dengan peserta lelang fiktif. Akibatnya, negara mengalami kerugian sekitar Rp 31 miliar.

Said menegaskan proyek ini tidak bermasalah. Dia bilang kasus yang ditangani KPK itu terkait jasa konsultan. “Jadi enggak bermasalah kalau dibangun,” ujarnya.

Sumber : Investor Daily 18 November 2015

Sakana Food Depok www.sakana.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *