Energi Baru Terbarukan Butuh Investasi Rp 402 T

renewable-energy-indonesia

Pemerintah bertekad tetap mengembangkan energi baru terbarukan meski harga minyak dunia tengah turun. Untuk itu, pemerintah akan memberikan insentif bagi pengembangan energi terbarukan yang membutuhkan dana investasi sekitar Rp 402 triliun.

Presiden joko Widodo mengatakan, bauran energi nasional saat ini masih didominasi olel energi fosil yang mencapai 95%. Untuk itu, pemerintah bertekad akan memperbesar porsi energi baru terbarukan dalam bauran energi sehingga Indonesia tidak terlalu bergantung pada energi fosil. Kebijakan ini akan tetap dijalankan meski harga minyak mentah berada pada titik terendah sekitar 41 per barel.

“Meskipun saat ini harga minyak turun, jangan grogi buat yang berurusan dengan energi non-fosil. Karena ke depan, kita pasti akan masuk ke energi baru terbarukan,” kata Presiden ketika membuka The 4th Indonesia EBTKE Conference and Exhibition 2015 dan Indonesia International Geothermal Convention and Exhibition 2015 di Jakarta, Rabu (19/8).

Untuk itu, lanjut Presiden, pemerintah siap membantu investor energi baru terbarukan untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Pemerintah siap memberikan insentif berupa kemudahan perizinan hingga kenaikan harga energi baru terbarukan. “Potensi energi baru terbarukan yang kita miliki cukup besar dan berlimpah, sehingga investasinya harus terus didorong,” tuturnya.

Kepala Negara menegaskan, harus ada pengawasan pelaksanaan proyek energi baru terbarukan yang telah dicanangkan. Jangan sampai setelah diberi izin, proyek tersebut tidak ada tindak lanjutnya. Bahkan, jika ada masalah dalam pelaksanaannya, pemerintah siap turun tangan inembantu penyelesaiannya.

“Jika ada masalah, PLN lapor ke menteri. Jika menteri tidak sanggup, lapor ke saya. Ini masalah layanan bagi investor yang sudah mau investasi di Indonesia,” tegas dia.

Info Terkait :   Berinvestasi di Bisnis Listrik Masa Depan

Presiden berharap seluruh proyek energi baru terbarukan bisajalan. Pasalnya, masyarakat di seluruh Indonesia telah 1 menunggu tambahan pasokan energi tersebut.

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said menuturkan, dalam Proyek 35 Ribu Megawatt (MW) terdapat porsi energi baru terbarukan sebesar 25% atau 8.750 MW. Rincinya, energi panas bumi 1.571 MW, bioenergi 1.656 MW, Air 2.800 MW, dan energi lainnya 3.405 MW. Diakuinya, kebutuhan investasi untuk pengembangan proyek energi baru terbarukan ini jauh lebih mahal dari energi fosil.

“Investasi yang dibutuhkan mencapai Rp 402 triliun dalam lima tahun ke depan, ini yang harus diperjuangkan bersama,” ujarnya.

Untuk mendorong investasi di bidang energi baru terbarukan, sebagaimana amanat Kepala Negara, pihaknya telah melakukan beberapa terobosan. Rinciannya, perbaikan tata kelola panas bumi penyediaan insentif pembebasan bea masuk peralatan, penciptaan pasar salah satunya dengan mandatori biodiesel dan penyedehaan perizinan usaha panas bumi.

“Kami juga melakukan perbaikan tarif energi baru terbarukan sehingga pengusaha mendapatkan marjin yang sehat untuk mengembangkan sektor ini,” kata Sudirman.

Tidak hanya itn, lanjutnya, pihaknya juga sudah memulai keterbukaan daiam pembuatan peraturan atau kebijakan. Setiap rancangan peraturan yang dibuat pemerintah akan dimintakan pendapat asosiasi pengusaha energi baru terbarukan.

Kesepakatan Investasi

Sejauh ini, tutur Sudirman, minat investasi di sektor energi baru terbarukan nasional cukup tinggi. Daiam acara kali ini saja, terdapat penandatanganan perjanjian jual beli listrik (power purchase agreement/PPA), pemberian izin panas bumi, hingga nota kesepahaman pengembangan energi baru terbarukan.

“Nilai investasi seluruh proyek tersebut mencapai Rp 106,3 triliun daiam lima tahun. Proyek ini akan menambah pasokan listrik dari energi baru terbarukan sebesar 2.400 MW,” kata dia.

Info Terkait :   Lembaga Keuangan Dukung Pengembangan EBT

Terdapat lima PPA yang diteken PT PLN (Persero) dengan kapasitas total 622 MW. Kelima PPA itu yakni PLTA Batang Toru oleh 510 MW oleh PT North Sumatera Hydro Energy, PLTA Hasang 3×13 MW oleh PT Binsar Natorang Energy, PLTB Sidrap 70 MW oleh PT UPC, PLTS Gorontalo 2MWp oleh PT Brantas Adya Surya Energi, dan PLTS Sumba Timur 1 MWp oleh PT Buana Energi Surya. Nilai proyek kelimanya yakni US$ 1/7 miliar.

Selanjutnya, PLN juga meneken nota kesepahaman dengan PT SBS International Limited untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga arus laut 12 MW di Selat Alas, Selat Lombok, dan Selat Badung. Proyek ini merupakan pengembangan pembangkit listrik energi laut skala komersial pertama di Indonesia. Proyek ini bisa dikembangkan hingga 140 MW dengan biaya US$ 350 juta.

Pada kesempatan yang sama, juga dilakukan penandatanganan nota kesepahaman pengembangan pembangkit listrik biogas rumput laut dan pembangkit listrik gelombang laut. Selain itu, pemerintah juga melakukan serah terima aset PLTMH, PLTS, PLTSampah berkapasitas 575 kilowatt (kW) dan pemberian 13 izin panas bumi berkapasitas 1.515 MW.

Menurut Kepala Divisi Energi Baru dan Terbarukan PLN Syah Darwin Siregar, dengan penandatanganan tersebut, maka pengembangan energi baru terbarukan sudah tertuang dalam PPA 5.014 MW. “Sehingga diharapkan penambahan pembangkit energi baru terbarukan pada 2019 sebesar 4.116 MW dapat terlampaui,” kata dia.

Sumber : Investor Daily 24 Agustus 2015

Sakana Food Depok www.sakana.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *