Ekonomi Turun, Pemerintah Evaluasi Program 35000 MW

program-35000-MW

Pemerintah berencana mengevaluasi proyek pembangunan pembangkit listrik 35 ribu megawatt (MW) menyusul turunnya pertumbuhan ekonomi nasional. Penambahan kapasitas pembangkit listrik akan disesuaikan dengan kebutuhan.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jarman mengatakan, pembangunan pembangkit listrik hingga 35 ribu MW itu berdasarkan perkiraan pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 5-6%, selama 2015-2019 dibutuhkan tambahan kapasitas pembangkit listrik sebesar 7 ribu MW per tahun.

Ekonomi Tidak Sesuai Perkiraan

Namun, diakuinya memang realisasi pertumbuhan ekonomi sudah tidak sesuai dengan perkiraan. “Kalau misalnya pertumbuhan ekonominya melambat, ya memang harus dihitung lagi. Tetapi kalau asumsinya seperti pertumbuhan ekonomi tahun lalu, otomatis butuhnya 35 ribu MW,” kata dia di Jakarta, akhir pekan lalu.

Jarman mengakui, pertumbuhan penjualan listrik pada semester satu ini memang jauh dari target, yakni hanya 1,8% dari target 9%. Namun, perlambatan pertumbuhan penjualan ini bukan semata-mata karena melemahnya ekonomi. Tarif listrik industri dan bisnis yang dipatok sesuai keekonomian juga menjadi salah satu penyebabnya.

“Beberapa pelaku industri ada yang menghidupkan pembangkit mereka sendiri, kemudian beberapa pelaku bisnis melakukan efisiensi,” jelas dia.

Dengan berbagai penyebab tersebut, pihaknya akan menghitung ulang kebutuhan penambahan kapasitas pembangkit listrik dalam lima tahun mendatang. Asumsinya, setiap pertumbuhan ekonomi 1%, maka penambahan kapasitas pembangkit listrik harus 1,3 kalinya.

Info Terkait :   PPA Proyek Listrik Capai 13 Ribu MW Akhir 2015

Tidak Mengurangi Jumlah Proyek

Meski demikian, pengkajian ulang proyek itu tidak akan mengurangi jumlah proyek. “Kalau nanti tidak butuh sebesar 35 ribu MW, tinggal digeser saja jadwal operasi pembangkitnya menjadi setelah 2019,” tutor Jarman.

Sedianya, proyek 35 ribu MW memang ditargetkan selesai seluruhnya pada 2019.

Pengkajian ulang, lanjut Jarman, sekaligus terkait rencana pengurangan pembangunan pembangkit listrik oleh PT PLN (Persero) dari 10 ribu MW menjadi 5.000 MW. Pengurangan jatah pembangunan ini dimaksudkan agar perseroan lebih fokus dalam pengerjaan jaringan transmisi dan distribusi.

“Karena investasi untuk pembangkit ini kan mencapai 2/3 dari keseluruhan proyek, makanya diserahkan ke swasta,” ujar dia.

Meski digarap swasta, Jarman optimis proyek tidak akan mangkrak seperti yang terjadi sebelumnya. Pasalnya, proses pemilihan pengembang akan diperketat dengan dilakukan uji tuntas kemampuan teknis dan finansial Sehingga, pemilihan pengembang tidak lagi hanya mengejar yang menawarkan harga termurah.

Untuk PLN, lanjut dia, nantinya akan membangun pembangkit listrik di luar Pulau Jawa. Pasalnya, secara keekonomian, biasanya proyek pembangkit di luar Jawa masih kurang menarik bagi investor. Namun, untuk pastinya, PLN diberi waktu sampai akhir tahun nanti untuk mengevaluasi proyek pembangkit mana saja yang bisa dialihkan ke swasta.

“Jadi dalam beberapa bulan ini semuanya akan dievaluasi PLN, berapa pembangkit yang masuk dan berapa kebutuhan setrum. Nantinya hasil evaluasi Program 35000 MW itu akan dimasukkan dalam RUPTL (rencana umum penyediaan tenaga listrik),” kata Jarman.

Info Terkait :   Pertengahan 2016, PLN Targetkan Teken Kontrak 15 Ribu MW

Total investasi yang dibutuhkan untuk Proyek 35.000 MW ini mencapai lebih dari Rp 1.100 triliun. Proyek 35 ribu MW disebar di seluruh Indonesia. Rincinya, Jawa-Bali terdapat proyek pembangkit berkapasitas 18.697 MW, Sumatera 10.090 MW, Sulawesi 3.470 MW, Kalimantan 2.635 MW, Nusa Tenggara 670 MW, Maluku 272 MW, dan Papua 220 MW. Jika seluruh proyek selesai, rasio elektrifikasi nasional ditargetkan naik menjadi 97% pada 2019 dari posisi saat ini 84%.

Sumber : Investor Daily 18 Agustus 2015

Sakana Food Depok www.sakana.id
Updated on     Info Tags: ,

2 thoughts on “Ekonomi Turun, Pemerintah Evaluasi Program 35000 MW

  1. kang udin says:

    piye to bos jokowi

    pak sby sudah sekuat tenaga membangun ekonomi, sekarang sampeyan malah menghancurkannya

    mana ayo kerjanya
    presiden gak kerja
    rakyat juga gak bisa kerja karena kena phk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *