Butuh Taktik untuk Mobil Listrik

mobil-listrik-indonesia

Berbagai upaya untuk mengembangkan mobil listrik nasional masih berkutat di tahap wacana dan terus kandas saat uji coba dilakukan. Hal itu disebabkan belum ada niat pemerintah untuk menciptakan kendaraan ramah lingkungan dan tidak lagi bergantung pada konsumsi bahan bakar fosil.

“Kami ingin mobil listrik masuk produksi dan industri. Itu butuh dukungan pemerintah dengan kebijakan yang kami usulkan,” ujar Ketua Asosiasi Pengembang Kendaraan Listrik Bermerk Nasional (Apklibernas) Sukotjo Herupramono dalam diskusi di Kementerian Perindustrian Jakarta, kemarin.

Pihaknya mengusulkan pemerintah memberi ruang bagi pengembang industri mobil listrik nasional di pasar kendaraan berdaya 75 kilowatt (KW). “Untuk yang di atas 75 KW bisa dipegang produsen asing. Ini untuk melindungi dan mendukung produk anak bangsa,” ujar Sukotjo.

Dengan taktik itu, Indonesia bisa menjadi produsen sehingga terlepas dari ketergantungan konsumsi bahan bakar minyak (BBM).

“Kalau dikonversikan 1 liter BBM di mobil listrik bisa menempuh jarak 90 km, dibandingkan mobil konvensional yang hanya 10-15 km,” jelas Ketua Tim Mobil Listrik Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya Muhammad Nur Yuniarto.

Ia mengakui ada beberapa hal yang masih perlu diteliti, utamanya terkait dengan kekuatan baterai. “Baterai kami masih di level 2 dari skala 10 yang memungkinkan bisa produksi. Butuh pengembangan 5 tahun lagi,” ucapnya.

Mobil listrik lebih cocok untuk transportasi dalam kota karena harus isi ulang baterai.

Namun, pengembangan daya jelajah yang lebih jauh supaya bersaing dengan mobil konvensional terus dilakukan.

“Kami terus meneliti metal air battery supaya baterai bisa diisi air. Kalau itu bisa, mobil listrik dapat menyaingi mobil konvensional,” ungkapnya.

Sukotjo menambahkan pihaknya bekerja sama dengan tim perguruan tinggi. “Targetnya mobil listrik nasional menguasai 10% industri mobil nasional,” ungkapnya.

Salah satu calon produsen yakni PT Great Asian Link yang tengah mengembangkan mobil listrik bersama peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB), ITS, Universitas Indonesia (UI), Universitas Sebelas Maret (UNS), dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Di kesempatan sama, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika, Kementerian Perindustrian I Gusti Putu Suryawirawan mengakui belum ada sinergi untuk memproduksi mobil beremisi karbon rendah seperti mobil listrik atau mobil berbahan bakar hidrogen. “Kalau tidak antisipasi perkembangan teknologi hanya menyisakan Indonesia sebagai pengguna,” ungkapnya.

Untuk itu, industri nasional harus jelas memosisikan diri sebagai produsen, perakit, atau hanya menjadi diler.

“Kita semua tahu industri berbeda dengan membuat. Jika memang untuk produksi, pemerintah menyediakan laboratorium kajian,” tuturnya.

Pemerintah pun perlu menyiapkan sinergi industri komponen yang telah ada. “Untuk baterai, kita undang Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan karena baterai masuk limbah B3. Kita perlu pikirkan recycle (daur ulang) baterai dan mesin motor diproduksi di dalam negeri,” tandasnya.

Sumber : Investor Daily 25 Februari 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *