BNI Berupaya Tingkatkan Pembiayaan ke Energi Terbarukan

bank-bni

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk berencana untuk meningkatkan pembiayaan ke energi terbarukan. Sementara sampai saat ini, porsi pembiayaan ke energi terbarukan masih di bawah 5%.

Direktur Business Banking BNI Herry Sidharta menjelaskan, untuk meningkatkan porsi pembiayaan ke energi terbarukan, perseroan sedang membidik beberapa proyek di, sektor tersebut Di antaranya adalah pembiayaan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), solarcell dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

Namun upaya untuk meningkatkan pembiayaan ke energi terbarukan ini, menurut Herry masih belum bisa mengimbangi pembiayaan ke sektor migas. Sampai saat ini, Herry mengakui porsinya masih lebih besar yaitu mencapai 11%. “Klien kami di pembiayaan migas merupakan klien tetap seperti Pertamina, Bukit Asam dan Medco,” jelas dia kepada Investor Daily akhir pekan lalu.

Fair Finance Guide International sebelumnya menyatakan, dalam kurun waktu 2004 hingga 2014, total pinjaman dan penjaminan dari sektor lembaga keuangan untuk sektor energi terbarukan meningkat menjadi US$ 119 miliar dari lima tahun sebelumnya sebesar US$ 95 miliar. Namun, jumlah tersebut tidak sebanding dengan total pinjaman dan penjaminan untuk perusahaan berbasis bahan bakar fosil yang mencapai U$$ 1.023 miliar atau meningkat hampir 10x lipat.

Rotua Tampubolon, Sustainable Development Officer Perkumpulan Prakarsa menjelaskan, penelitian dilakukan dengan menganalisis tren pembiayaan oleh 75 lembaga keuangan terhadap sektor bahan bakar fosil (batu bara, minyak dan gas).

Info Terkait :   Energi Baru Terbarukan Masa Depan Indonesia

Selain itu, penelitian juga dilakukan untuk menganalisis tren pembiayaan lembaga keuangan tersebut terhadap perusahaan peralatan energi terbarukan (solar panel, pembangkit listrik tenaga surya, turbin angin, turbin listrik, dan rekayasa panas bumi) serta proyek energi terbarukan dan perusahaan utilitas yang berada di delapan negara koalisi FFGI.

Rotua melanjutkan, di Indonesia, penelitian dilakukan terhadap 11. lembaga keuangan seperti Citibank, UFJ Mitsubishi, OCBC NISP, HSBC, CIMB Niaga, BNI, BRI, Bank Mandiri, BCA, Bank Danamon dan Bank Panin serta delapan perusahaan yang bergerak di sektor tambang batu bara dan utilitas.

Dari hasil penelitian FFGI, sudah ada bank yang mengurangi proporsi pembiayaan bahan bakar fosil, seperti UFJ Mitsubishi yang mulai menguranginya sebesar 8%. Namun untuk bank lainnya, proporsi pembiayaan untuk bahan bakar fosil masih cukup tinggi. “CIMB Niaga dan Bank Panin misalnya, mereka masih 100% investasi di bahan bakar fosil. Bank Mandiri masih 99%, sedangkan BRI dan BCA masih 98%,” terang Rotua.

Penggunaan bahan bakar fosil, lanjut Manajer Kajian Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Pius Ginting, saat ini sudah mulai ditinggalkan. Amerika Serikat semasa pemerintahan Barack Obama telah menutup sekitar 200 PLTU batubara.

Begitu pula dengan Tiongkok sehingga Indonesia menjadi incaran penjual teknologi batubara. Padahal, teknologinya adalah teknologi kotor.

“Dalam kondisi seperti ini, Indonesia semestinya tidak menjadikan dirinya sebagai pasar. Diharapkan seluruh bank dan institusi finansial lainnya menghentikan dukungan investasinya terhadap batu bara,” kata dia.

Info Terkait :   Kadin Ingin Terlibat Program Ketenagalistrikan

Sumber : Investor Daily 5 November 2015

Sakana Food Depok www.sakana.id
Updated on     Info Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *