Bangun PLTMH, Grup ABM Siapkan Dana US$ 150 Juta

mini-hidro

PT ABM Investama Tbk (ABMM) melalui anak usahanya, PT Sumberdaya Sewatama, menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga mini hidro (PLTMH) berkapasitas 50 megawatt (MW) hingga lima tahun ke depan. Perseroan membutuhkan dana sebesar US$ 100-150 juta untuk proyek energi baru terbarukan (renewable energy) tersebut.

Direktur Utama Sumberdaya Sewatama Elan B Fuadi mengatakan, dari proyek pembangkit listrik yang dicanangkan pemerintah dengan total kapasitas 35 ribu MW, sebanyak 4.000-8.000 MW di antaranya merupakan pembangkit listrik renewable energy.

“Kami ingin mengambil bagian 50 MW pembangkit listrik renewable dalam lima tahun mendatang,” kata Elan di Jakarta, Selasa (12/1).

Lebih lanjut dia mengungkapkan, tahun ini perseroan berencana menggarap PLTMH berkapasitas 25 MW. Perseroan membangun keempat pembangkit listrik tersebut di Sulawesi Selatan.

Menurut Elan, perseroan bakal membangun dua pembangkit listrik pada tajiun ini. Kedua pembangkit tersebut berada di Madong berkapasitas 10 MW dan Sapaya berkapasitas 5 MW.

Selain itu, perseroan sedang melakukan negosiasi terkait power purchase agreement (PPA) dengan PT Perusahaan Iistrik Negara (FLN) untuk dua PLTMH. Kedua PLTMH itu terletak di Totinapu berkapasitas 6 MW dan Palosan 10 MW. “Jadi total pembangkit yang akan dibangun berkapasitas sekitar 25 MW,” tutur Elan.

Elan menegaskas, perseroan menargetkan pembangunan PLTMH tersebut tuntas dalam dua tahpn, Meski PPA masih dalam tahap negosiasi dengan PLN, perseroan telah membangun prasarana proyek-proyek tersebut.

Sewatama membutuhkan dana sebesar US$ 2-2,5 juta per MW untuk membangun PLTMH. Erlan mengakui dana investasi untuk PLTMH tergolong tinggi. “Jika membangun pembangkit Iistrik tenaga uap menggunakan batubara membutuhkan US$ 1,5 juta per MW,” kata dia.

Hingga saat ini, Sewatama telah mengidentifikasi potensi pembangkit Iistrik renewable energy berkapasitas 50 MW di delapan area.

Obligasi Wajib Konversi Sementara itu, PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) resmi membeli obligasi wajib konversi (mandatory convertible bond/MCB) Sewatama senilai Rp 300 miliar. Surat utang tersebut nantinya akan otomatis dikonversi menjadi saham dalam lima tahun mendatang.

Info Terkait :   Kadin Ingin Terlibat Program Ketenagalistrikan

Rencananya, Sumberdaya Sewatama akan menggunakan dana hasil penerbitan obligasi untuk membiayai pembangunan proyek-proyek pembangkit listrik renewable energy. Elan mengungkapkan, kerja sama tersebut memberikan kepercayaan diri pada perseroan.

“Ini juga akan memperbaiki struktur permodalan lmmi dan memberikan ruang bergera yang lebih luas,” kata dia.

Sesuai rencana, dalam lima tahun mendatang, perseroan akan menyeimbangkan portofolia bisnisnya. Untuk energi baru terbarukan, perseroan juga sudah mengantongi proyek kerja sama pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar limbah kelapa sawit (PLTBG) dengan dua perusahaan produ-sen kelapa sawit di Kalimantan berkapasitas 5 MW.

Di Nusa Tenggara Timur (NTT), Sewatama juga telah menyelesaikan pelaksanaan studi tahap awal untuk pembangkit listrik tenaga baru berkapasitas 3 MW.

Sebelumnya, Sewatama menandatangani heads of agreement (HoA) dengan perusahaan asal Timur Tengah. HoA itu terkait penyediaan kebutuhan listrik cepat dan sementara (temporary power) hingga 1.200mega watt (MW) di Timur Tengah dan Afrika melalui pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD).

Sewatama menggandeng National Gulf Investment Lie (NGI Group) dan FO Trading untuk melangsungkan rencana tersebut. Seluruh perusahaan yang terlibat menandatangani HoA.

Direktur Utama Sumberdaya Sewatama Elan B Fuad pernah menjelaskan, dalam kerja sama itu, perseroan mengalokasikan modal sebesar US$ 120 juta dalam tiga tahun ke depan. Modal itu berupa mesin reciprocating diesel engine yang akan dikirim secara bertahap.

“Mesin-mesin itu sudah disesuaikan dengan spesifikasi di Timur Tengah. Misalnya soal kemampuan menghadapi suhu di kawasan itu yang bisa mencapai 40 derajat celcius,” ungkap Elan.

Sementara itu, menurut Global Data, sebuah lembaga konsultasi riset internasional, pasar rental temporary power di kawasan Timur Tengah dan Afrika terus meningkat. Di Arab Saudi, kebutuhan tahun 2016 mencapai 1.200 MW, meningkat dari 2015 yang mencapai 1.000 MW.

Info Terkait :   Kembangkan PLTS, Pertamina Jalin Sinergi dengan Tiga BUMN

Dari angka tersebut, sebesar 98% menggunakan mesin berbahan bakar diesel. Hal ini teijadi lantaran negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi merupakan negara produsen minyak terbesar di duniai.

“Dalam tiga tahun mendatang, kami menargetkan bisa meraih sekitar 40% dari kebutuhan market atau sekitar 300 MW,” ungkap Elan.

Sementara itu, CEO National Gulf Investment Nasser Ali Yaslam mengatakan, listrik dibutuhkan untuk pemekaran berbagai kawasan industri dan perumahan baru di Saudi Arabia, negara-negara Uni Emirat Arab (UEA), dan Afrika.

NGI Group kata dia, merupakan pemain utama di bidang konstruksi yang sudah menggeluti selama 20 tahun di kawasan Timur Tengah. Saat ini, NGI memerlukan dukungan kelistrikan untuk memenuhi berbagai pembangunan proyek infrastruktur di UAE dan Afrika.

“Kami bersyukur akhirnya hari ini kesepakatan ditandatangani bersama. Sewatama sudah berkecimpung di bidang ifii selama 23 tahun,” ujar Nasser.

Dalam kerja sama ini, National Gulf Investment Group dan FO Trading menyertakan modal PS$ 60 juta dalam bentuk bangunan kantor bersama di Dubai dan seluruh biaya operasional selama kerja sama berlangsung.

National Gulf Investment dan FO Trading juga berperan memasarkan mesin-mesin temporary power. “Meski demikian, dalam pengoperasian mesin-mesin itu, akan dilakukan oleh tenaga-tenaga ahli dari Sewatama,” kata Nasser.

CEO FO Trading Othman El Boukshimi menambahkan, pihaknya siap berkolaborasi dalam kerja sama ini untuk memastikan mesin pembangkit listrik diesel digunakan membantu kebutuhan listrik di kawasan itu. FO Trading merupakan pemain pembangkit listrik mandiri (independent power producer/IPP) di Indonesia, Timur Tengah, dan Afrika.

Sumber : Investor Daily 13 Januari 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *