Bangun Pembangkit, Bukit Asam Kaji Kenaikan Capex

PT Bukit Asam

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mengkaji untuk menaikan anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini menjadi Rp 5 triliun, dari semula Rp 3,5 triliun. Kenaikan ini didasarkan atas asumsi dimulainya konstruksi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Banko Tengah tahun ini.

Sekretaris Perusahaan Bukit Asam Joko Pramono mengatakan, perkiraan tersebut melonjak dibandingkan dengan realisasi capex tahun lain sekitar Rp 2 triliun. Rendahnya penggunaan belanja tahun lalu akibat banyak proyek pembangkit listrik yang tertunda.

Saat ini, perseroan masih menunggu kelengkapan letter of intent (LoI) transmisi listrik dari PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Sesuai rencana, jika tiga LoI sudah diterbitkan PLN, perseroan baru bisa memulai konstruksi PLTU Banko Tengah atau Sumsel 8 berkapasitas 2×260 megawatt (MW) di mulut tambang Tanjung Enim.

“Sementara kami alokasikan belanja modal Rp 3,5 triliun, tapi kalau Bangko Tengah dimulai tahun ini, capex akan melonjak signifikan hingga Rp 5 triliun,” jelas dia, akhir pekan lalu.

Selain menggunakan ekuitas, salah satu pendanaan Banko Tengah berasal dari The Export-Import Bank of China (Cexim) senilai US$ 1,2 miliar. Facility loan agreement (FLA) telah diteken sejak 27 Maret 2015. Perjanjian PLTU ini berlaku selama 10 tahun, di luar masa tenggang selama 45 bulan masa kontruksi proyek.

“Pinjaman Cexim ini akan ditarik secara bertahap. Sebelumnya, PLN sudah menjanjikan seluruh LoI terbit pada September 2015, tapi ada kendala, jadi kami harap bisa lengkap tahun ini,” kata Joko.

Info Terkait :   Sinar Mas Bidik Power Plant Senilai US$ 1,65 Miliar

Sejauh ini, Banko Tengah telah masuk ke tahap pematangan lahan. Jika kontruksi berjalan mulus, PLTU tersebut akan beroperasi secara komersial pada 2019.

Lebih jauh, kata Joko, sebagian capex tahun ini akan digunakan untuk membeli sebagian saham Ignite Energy Resources Ltd asal Australia. Perseroan menyiapkan dana sekitar US$ 30 juta untuk aksi akuisisi yang akan dieksekusi oleh anak usaha, PT Bukit Energi Investama,

Sebagai informasi, Ignite Energy memiliki teknologi Coal liquefaction (batubara cair) dan Coal Up Grading (peningkatan kualitas batubara). Untuk pengolahan batubara , IER Ltd. menggunakan teknlogi Cat-HTR (Catalic Hydro-Thermal Reactor) yang dapat mengolah batubara men-jadi minyak mentah sintetis.

Lebih lahjut, Bukit Asam tengah menjajaki pembangunan PLTU Peranap di Riau berkapasitas 800 MW-1.200 MW dengan nilai investasi US$ 2,4 miliar. PLTU itu akan dibangun bersama pleh perseroan, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) dan perusahaan listrik asal Malaysia, Tenaga Nasional Berhad (TNB).

Direktur Utama Bukit Asam Milwarma mengatakan, kajian PLTU ini sudah rampung. Saat ini, perseroan tengah menunggu kesepakatan antara pemerintah Malaysia dengan Indonesia terkait keriasama ekspor listrik.

“Langkah ini merupakan salah satu cara kami bersaing di periode per dagangan bebas ASEAN,” terang dia.

Akhir pekan lalu, Bukit Asam pun menyatakan kesiapan membangun pembangkit listrik berkapasitas hingga 600 megawatt (MW) di proyek Feronikel Halmahera Timur (FHT), Maluku milik PT Aneka Tambang Tbk (ANTM/Antam). Nilai investasinya diperkirakan sekitar US$ 720-US$ 840 juta.

Info Terkait :   PLTU Lontar 1x315 MW Siap Dibangun

Sumber : Investor Daily 11 Januari 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *