2016, PLN Kucurkan Investasi Rp 70-80 T

pln-indonesia

Direktur Utama PLN Sofyan Basir mengatakan, jumlah proyek kelistrikan yang dikerjakan perseroan pada tahun ini naik cukup tinggi karena proyek 35 ribu MW sudah masuk tahap konstruksi. Untuk proyek transmisi saja, PLN harus merampungkan hingga 9 ribu kilometer (km) atau sepuluh kali lipat lebih panjang dari tahun lalu yang hanya 900 km. Selain itu, PLN juga masih harus mendanai proyek pembangkit listrik yang menjadi tanggung jawabnya.

PT PLN (Persero) menganggarkan Jana investasi pada tahun ini mencapai Rp 70-80 triliun. Angka ini naik signifikan dari tahun-tahun sebelumnya lantaran perseroan mulai menggarap proyek 35 ribu megawatt (MW).

Peningkatan jumlah proyek ini otomatis membutuhkan anggaran investasi yang lebih tinggi. “Kalau secara global investasi tahun ini Rp 70-80 triliun, untuk (pendanaan) pembangkit listrik berapa, saya lupa,” kata dia di Jakarta, Selasa (23/2) malam.

Untuk memenuhi kebutuhan investasi itu, diakui Sofyan, perusahaan tidak bisa mengandalkan kas saja. Sebagian dana diperoleh perusahaan pelat merah itu dari pinjaman dan penanaman modal negara (PMN). Porsi pinjaman dan PMN ini lebih besar dari kas yang dimiliki PLN. “Kalau misalnya Rp 70 triliun, yang kas PLN Rp 30 triliun. Sisanya utang dan PMN,” jelas dia.

Sofyan juga menyatakan, aset PLN naik signifikan setelah revaluasi aset selesai. Aset PLN naik Rp 500 triliun menjadi Rp 1.100 triliun. Dampaknya, ekuitas perusahan meningkat menjadi Rp 700 triliun sehingga leverage perusahaan semakin bagus. “Sehingga kami bisa meminjam sampai dengan Rp 1.500-1.800 triliun,” tambahnya.

Direktur Perencanaan Korporat PLN Nicke Widyawati menuturkan, dari proyek 35 ribu MW, perseroan telah meneken kontrak jual beli listrik (power purchase agreement/PPA) dan konstruksi (engineering, procurement, and construction/EPC) untuk beberapa proyek pembangkit listrik berkapasitas total 17.340 MW. Total nilai investasi dari keseluruhan kontrak yang sudah ditandatangani tersebut senilai US$ 20 miliar atau sekitar Rp 280 triliun.

Info Terkait :   Kuartal-III 2015, Penjualan Listrik Tumbuh 1,93%

Seluruh proyek itu disebutnya harus mulai groundbreaking pada tahun ini juga, termasuk untuk proyek yang menjadi tanggung jawab PLN yang digarap pengembang melalui skema EPC. “Ada 2.400 MW yang EPC, itu harus mulai begitu tanda tangan kontrak. Supaya kontrak efektif berjalan, salah satu caranya yakni dengan pembayaran DP (down payment/uang muka),” kata dia.

Beberapa pengembang yang telah memiliki kontrak EPC dengan PLN adalah PT PP (Persero) untuk PLTG Gorontalo, Konsorsium Samsung, Lotte, dan PT Hutama Karya (Persero) untuk PLTU Grati, serta PT Black & Vetch dan PT SSP General Engineering & Construction untuk PLTU Lontar.

Hal yang sama juga berlaku untuk proyek transmisi. Menurut Nicke, PLN telah meneken kontrak EPC untuk pembangunan transmisi 500 kilovolt (kV) di Sumatera. Proyek ini juga akan mulai konstruksi tahun ini sehingga PLN sudah harus mulai pembayarannya. Selain transmisi ini, masih banyak lagi transmisi kapasitas lebih rendah yang tersebar di berbagai daerah yang harus dikerjakan PLN.

Kemudian, lanjut dia, anggaran investasi itu juga akan dipakai untuk program listrik desa (lisdes). PLN mengalokasikan Rp 3 triliun dari PMN untuk pembangungan pembangkit, transmisi, gardu, dan pemasangan listrik gratis untuk pedesaan. Sesuai Program Indonesia Terang, yang disasar adalah daerah perbatasan dan terpencil.

IPP Groundbreaking

Nicke menambahkan, proyek-proyek pembangkit yang dikerjakan oleh produsen listrik swasta (independent power producer/IPP) sekitar 14 ribu MW juga harus mulai groundbreaking. Hal ini sesuai persyaratan dalam kontrak di mana pengembangan harus merampungkan pendanaan (financial close) dalam enam bulan setelah kontrak diteken. “Kemarin kan ditandatangan 17 ribu MW, dari situ IPP kira-kira 14 ribu MW, dalam jangka waktu enam bulan
mereka sudah harus melakukan aktifitas,” ujarnya,

Info Terkait :   Atasi Krisis Listrik, PLN NTB Terkendala Finansial

Selain memenuhi persyaratan kontrak, lanjut dia, groundbreaking harus segera dilakukan agar proyek tidak terlambat. Pasalnya, pengembangan tidak memiliki waktu banyak untuk merampungkan pembangkit listriknya pada 2019 sesuai dengan target yang telah ditetapkan pemerintah untuk proyek 35 ribu MW.

Menurut Nicke, groundbreaking untuk proyek yang digarap IPP ini diharapkan bisa terjadi pada Maret nanti. “Kami ingin ada yang mulai groundbreaking Maret, sekitar 2.000 MW. Kami harapkan kalau bukan PLTU Jawa 7 Cirebon atau Cilacap, yang Jawa 7 peralatannya sudah dikirim ke lapangan,” paparnya.

Dari 17.340 MW pembangkit yang telah ditandatangani itu, sebanyak 4.291 MW menggunakan energi yang bersih dan terbarukan yaitu gas, air, dan panas bumi. Sementara sisanya merupakan pembangkit listrik berbahan bakar batubara dengan kapasitas mencapai 13.049 MW. Adapun sebaran lokasi pembangkit yang sudah ditandatangani kontraknya mencakup hampir seluruh wilayah Indonesia dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua.

Sumber : Investor Daily 25 Februari 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *